Survey & Sosialisasi Kegiatan Pendampingan Website Nagari Di Cluster VII Koto & Padang Sago, Kab Padang Pariaman

A. Pendahuluan

Sesuai permintaan dari perantau & tokoh masyarakat yang berasal dari 10 nagari di kec. VII Koto (Nagari Sungai Sariak, Balah Aia, Lareh Nan Panjang & Lurah Ampalu), kec. Padang Sago (Nagari Koto Dalam, Koto Baru & Batu Kalang) serta kec. Patamuan (Nagari Sungai Durian, Tandikek & Tandikek Utara), LPM Marapalam melakukan survey & sosialisasi Pendampingan Website Nagari kepada 10 pemerintahaan nagari di Kec. VII Koto,  Kec. Padang Sago & Kec. Patamuan kab. Padang Pariaman.

Dari hasil survey, ditinjau dari jumlah nagari & wilayah untu selanjutnya kita bagi menjadi 2 cluster yaitu :

  1. Cluster VII Koto Padang Sago, dengan nagari-nagari sebagai berikut :
    – Nagari Sungai Sariak (kec. VII Koto) ket : tempat lokasi pelatihan bersama
    – Nagari Balah Aia (kec. VII Koto)
    – Nagari Lareh Nan Panjang (kec. VII Koto)
    – Nagari Lurah Ampalu (kec. VII Koto)
    – Nagari Koto Dalam (kec. Padang Sago)
  2.  Cluster Patamuan Padang Sago, dengan nagari-nagari sebagai berikut :
    – Nagari Koto Baru (kec. Padang Sago)
    – Nagari Batu Kalang (kec. Padang Sago)
    – Nagari Tandikek (kec. Patamuan)
    – Nagari Tandikek Utara (kec. Patamuan)
    – Nagari Sungai Durian (kec. Patamuan) ket : tempat lokasi pelatihan bersama

Untuk keperluan rencana pendampingan website nagari yang sepenuhnya akan didukung oleh perantau-perantau yng tergabung dalam organisasi perantau dari 3 kecamatan ini yaitu (IK VII Koto – Ikatan Keluarga VII Koto Bersatu) yang merupakan sinergi lanjutan dari Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP) & Pemkab. Padang Pariaman yang disepakati akhir Oktober 2011 yang lalu di Jakarta.

LPM Marapalam memulai survey & sosialisasi 25 Mei 2012 pukul 08.00 wib, dimulai dengan melakukan koordinasi dengan PT Telkom Plasa Sicincin untuk mengetahui kondisi jaringan kabel telepon di 3 kecamatan ini. Selanjutnya melakukan survey berturut-turut selama 2 hari ke nagari-nagari dengan urutan sebagai berikut : Sungai Sariak, Lurah Ampalu, Balah Aia, Lareh Nan Panjang, Tandikek, Tandikek Utara, Batu Kalang, Koto Baru, Koto Dalam & Sungai Durian.

Untuk selanjutnya bahasan hasil survey & sosialisai akan kami khususkan kepada cluster VII Koto Padang Sago.

B. Hasil Survey pada 5 nagari di kec. VII Koto & kec. Padang Sago

1. Nagari Sungai Sariak, VII Koto.

  • Koneksi jaringan internet : line telepon/speedy, sampai saat ini masih terpasang & aktif dipakai. Hanya diperlukan biaya pendaftaran pelanggan speedy sebesar Rp. 50.000,- dimana selanjutnya PT Telkom Plasa Sicincin akan melakukan pemasangan disertai pemberian modem gratis. Paket speedy yang dibutuhkan =>  speedy unlimited socialia.
  • Peralatan tambahan yang butuhkan saat ini adalah :
    1 unit PC sejenis Intel Pentium Dualcore  & Monitor LCD 19″
    1 unit kamera digital pocket
    Kisaran biaya yang dibutuhkan Rp. 3.800.000,-
  • Komputer yang ada di kantor pemerintahan nagari saat ini 1 unit Pentium IV, laptop Pentium Dual Core & printer

2. Nagari Balah Aia, VII Koto.

  • Koneksi jaringan internet : line telepon/speedy, saat ini belum terpasang. Dikarenakan lokasi kantor pemerintahan nagari Balah  Aia berada 120 meter dari Pasar Baru jalan raya Pariaman – Sicincin, diperlukan koordinasi bersama antara tim Petik Pemkab Padang Pariaman dengan PT Telkom Plasa Sicincin agar ada penambahan sekitar 3 tiang telpon sehingga bisa mencapai kantor pemerintahan nagari Balah Aia.
    Selain itu, diperlukan biaya pemasangan telepon & pendaftaran pelanggan speedy sebesar Rp. 350.000,- dimana selanjutnya PT Telkom Plasa Sicincin akan melakukan pemasangan telepon disertai pemberian modem gratis. Paket speedy yang dibutuhkan =>  speedy unlimited socialia.
  • Peralatan tambahan yang butuhkan saat ini adalah :
    1 unit PC sejenis Intel Pentium Dualcore  & Monitor LCD 19″
    1 unit kamera digital pocket
    Kisaran biaya yang dibutuhkan Rp. 3.800.000,-
  • Komputer yang ada di kantor pemerintahan nagari saat ini 2 unit Pentium IV, laptop Pentium Dual Core & printer

3. Nagari Lareh Nan Panjang, VII Koto.

  • Koneksi jaringan internet : GSM (Telkomsel), saat ini jaringan kabel telpon di nagari Lareh Nan Panjang belum terpasang. Oleh karena itu, alternatif koneksi yang bisa digunakan melalui GSM dengan provider telkomsel (Simpati).
    Dibutuhkan modem USB type highspeed dilengkapi pigtail serta antena penangkap sinyal untuk menjamin kualitas sinyal yang stabil, mengingat wilayah ini berada di lereng perbukitan yang banyak ditumbuhi tanaman kelapa rakyat. Tiang antena dianjurkan menggunakan besi dengan tinggi 12 meter (2 stik) dengan ukuran 3-4 inchi. Untuk alternatif lain bisa digunakan batangan bambu dengan panjang 10 meter.
    Biaya yang dibutuhkan sekitar Rp.  1.100.000
  • Peralatan tambahan yang butuhkan saat ini adalah :
    1 unit PC sejenis Intel Pentium Dualcore  & Monitor LCD 19″
    1 unit kamera digital pocket
    Kisaran biaya yang dibutuhkan Rp. 3.800.000,-
  • Dibutuhkan paling tidak 1 unit PC tambahan mengingat komputer yang ada saat ini di kantor pemerintahan nagari Lareh Nan Panjang dalam kondisi rusak. Peralatan komputer lainnya hanya 1 unit laptop sejenis intel pentium III. Apabila dana tidak memungkinkan, intel pentium IV second hand sudah lebih dari cukup.

4. Nagari Lurah Ampalu, VII Koto.

  • Koneksi jaringan internet : GSM (Telkomsel), saat ini jaringan kabel telpon di nagari Lareh Nan Panjang belum terpasang. Oleh karena itu, alternatif koneksi yang bisa digunakan melalui GSM dengan provider telkomsel (Simpati).
    Dibutuhkan modem USB type highspeed dilengkapi pigtail serta antena penangkap sinyal untuk menjamin kualitas sinyal yang stabil, mengingat wilayah ini berada di lereng perbukitan yang banyak ditumbuhi tanaman kelapa rakyat. Tiang antena dianjurkan menggunakan besi dengan tinggi 12 meter (2 stik) dengan ukuran 3-4 inchi. Untuk alternatif lain bisa digunakan batangan bambu dengan panjang 10 meter.
    Biaya yang dibutuhkan sekitar Rp.  1.100.000
  • Peralatan tambahan yang butuhkan saat ini adalah :
    1 unit PC sejenis Intel Pentium Dualcore  & Monitor LCD 19″
    1 unit kamera digital pocket
    Kisaran biaya yang dibutuhkan Rp. 3.800.000,-
  • Komputer yang ada di kantor pemerintahan nagari saat ini 2 unit Pentium IV & printer

5. Nagari Koto Dalam, Padang Sago.

  • Koneksi jaringan internet : GSM (Telkomsel), saat ini jaringan kabel telpon di nagari Lareh Nan Panjang belum terpasang. Oleh karena itu, alternatif koneksi yang bisa digunakan melalui GSM dengan provider telkomsel (Simpati).
    Dibutuhkan modem USB type highspeed dilengkapi pigtail serta antena penangkap sinyal untuk menjamin kualitas sinyal yang stabil, mengingat wilayah ini berada di lereng perbukitan yang banyak ditumbuhi tanaman kelapa rakyat. Tiang antena dianjurkan menggunakan besi dengan tinggi 12 meter (2 stik) dengan ukuran 3-4 inchi. Untuk alternatif lain bisa digunakan batangan bambu dengan panjang 10 meter.
    Biaya yang dibutuhkan sekitar Rp.  1.100.000
  • Peralatan tambahan yang butuhkan saat ini adalah :
    1 unit PC sejenis Intel Pentium Dualcore  & Monitor LCD 19″
    1 unit kamera digital pocket
    Kisaran biaya yang dibutuhkan Rp. 3.800.000,-
  • Komputer yang ada di kantor pemerintahan nagari saat ini 2 unit Pentium IV & printer
C. Kesimpulan

 Berikut rincian biaya yang diperlukan dalam kegiatan pendampingan website nagari di cluster VII Koto Padang Sago

  1.  Biaya Peralatan :
    Nagari Sungai Sariak : Rp 3.850.000,
    Nagari Balah Aia : Rp. 4.150.000,-
    Nagari Lareh Nan Panjang : Rp. 4.900.000,-
    Nagari Lurah Ampalu : Rp. 4.900.000,-
    Nagari Koto Dalam : Rp. 4.900.000,-
  2. Biaya Pelatihan selama 1 bulan & Donasi untuk LPM Marapalam : Rp. 5.000.000,-
  3. Biaya Operasional Tenaga Pendamping selama 1 bulan  : Rp. 2.500.000,-
  4. Transportasi peserta 25 personil @ Rp 200.000,- : Rp. 5.000.000
  5. Biaya Domain & Hosting : konfirmasi ke pak Ali Unan (DPP PKDP)
  6. Biaya konsumsi peserta selama 1 bulan : konfirmasi ke Wali Nagari Sungai Sariak

Berikut hasil laporan ringkas yang dapat kami lakukan pada Cluster VII Koto Padang Sago, Kab. Padang Pariaman. Semoga bermanfaat, amin ya Rabbal alamin.

Padang, 26 Februari 2012

Armen Zulkarnain
Direktur Teknis & Lapangan
081275441828

Dipublikasikan untuk organisasi perantau IK VII Koto Padang Pariaman
tembusan :
– DPP PKDP
– Tim Petik Pemkab Padang Pariaman.

dokumentasi :

Kantor pemerintahan nagari Sungai Sariak kec. VII Koto

Pertemuan dengan Pemerintahan Nagari Sungai Sariak bersama perantau VII Koto pak Ali Munir.

Masjid Raya Guguak Kanagarian Lurah Ampalu yang memerlukan perbaikan pasca bencana gempa 30 September 2009

Kantor Pemerintahan Nagari Koto Dalam Kec. Padang Sago

Kantor Pemerintahan Nagari Lareh Nan Panjang Kec. VII Koto

Tower GSM di Kec. Padang Sago yang berada di jalan lintas antara Padang Sago – Pariaman

Terdapat 7  elemen anntena receiver yang mampu menerima 2100 kontak dalam waktu bersamaan berikut 1 outbond yang mengarah ke Pariaman. Koneksi GSM di kec.Padang Sago &  kec.VII Koto cukup baik kondisinya melihat sebaran tower GSM yang lebih merata dibanding kec. IV Koto Aua Malintang

Salah satu Warung Internet yang terdapat di pasar Padang Sago. Walaupun di kecamatan ini tidak terdapat jaringan kabel telepon, hal ini bisa dilakukan dengan mengunakan teknologi wirelles. Berkemungkinan outbond wirelles warnet Andi.Net ini berada di wilayah Pariamanmelihat arah anntenanya.

Tampak dari dekat anntena microtik wirelles warnet Andi.Net di pasar Padang Sago. Kedepan, perlu dipikirkan bagaimana perantau-perantau minang bisa membangun jaringan microtik di nagari-nagari sehingga seluruh nagari di Sumatera Barat bisa terakses internet yag bisa menjadi Badan Usaha Milik Nagari (BUMN) yang memberikan pemasukan alternatif pemerintahan nagari selain dari DAUN. Hal ini amat mungkin dilakukan bila saja melakukan koordinasi dengan pemda kabupaten setempat dengan memanfaatkan tower GSM yang ada di nagari-nagari.

Tampak kondisi dalam warnet di Padang Sago. Diharapkan kedepan seluruh pemerintahan nagari di Sumatera Barat bisa melakukan perbaikan dengan melakukan kontrol terhadap warnet-warnet yang ada di nagari, sehingga anak kemanakan bisa memperoleh hasil maksimal dengan adanya komunikasi internet di nagari.

Kondisi Jalan Nagari di 5 Nagari Kec. IV Koto Aue Malintang, Kab. Padang Pariaman

Dalam budaya minangkabau, sering disebutkan bahwa sarana prasarana jalan merupakan faktor penting untuk membangun masyarakat nagari. Hal ini dapat dilihat dalam penggunaan kalimat pada tradisi lisan minangkabau seperti :

Adaik tanyo iyo bajawek, adaik gayuang iyo basambuik Jalan nan pasa kito turuik, labuah nan  golong kito tampuah

Sejak dahulu, dalam khazanah budaya minangkabau, mengenai sarana perhubungan sangat diperlukan untuk mobilitas masyarakat nagari. Hal ini dapat kita lihat pada nagari-nagari di Luhak Nan Tigo, dimana sarana perhubungan ini diusahakan untuk layak digunakan oleh masyarakat, sehingga roda perekonomian di nagari tidak mengalami kendala berarti dengan mudahkan mobilisasi untuk memindahkan hasil bumi yang merupakan sektor riil penghasilan masyarakat.

Video dokumentasi LPM Marapalam ketika melakukan pendampingan website nagari di cluster IV Koto Aue Malintang. Kondisi jalan nagari di Korong Koto Panjang, Nagari III Koto Aue Malintang Selatan, kec. IV Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman. Video ini mewakili kondisi jalan nagari antar korong yang ada di 50 Korong pada 5 nagari kec. IV Koto Aue Malintang. Diperlukan sinergi bersama antara perantau Ikako Amal dengan 5 pemerintahan nagari untuk memperbaiki kondisi jalan nagari yang ada saat ini. Semoga perantau Ikako Amal bisa mampasamoan hal iko dimaso nan akan datang.

Selama melakukan pendampingan website nagari di cluster IV Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman, kami sempat mewawancarai beberapa penduduk nagari yang berusia lanjut, dimana pada era 70-80an sarana perhubungan di wilayah ini dalam kondisi yang cukup memprihatinkan, dimana jalan nagari pada masa itu belum dilakukan pengaspalan – hanya jalan tanah dengan pengerasan dengan kerikil – serta belum terdapatnya jembatan di Batang Tiku sehingga banyak masyarakat di III Koto Aue Malintang pada masa ini sering terlambat datang ke sekolah setingkat SLTP yang berada di Sungai Garinggiang.

Alhamdulillah, saat ini kondisi jalan utama antar nagari, mulai dari Sigata hingga Kapalo Gasan, lalu ke Simpang Ampek Aue Malintang dimana terdapat persimpangan menuju Balai Baiak Malai III Koto hingga ke Gasan Gadang sudah diaspal dengan baik oleh pemkab Padang Pariaman. Begitu pula kondisi yang ada saat ini dari Simpang Ampek Aue Malintang menuju Batu Basa, hingga ke Padang Maduang & Sungai Pingai serta menuju Kampuang Pinang hingga Padang Lariang tembus ke Lubuak Basuang, ibukota kab. Agam. Jikalau ada jalan antar nagari yang kondisinya belum layak pakai hanyalah dari Batu Basa menuju Durian Jantung, dimana setelah Koto Kaciak memasuki wilayah Nagari III Koto Aue Malintang Timur saat ini kondisi aspal yang ada perlu dilakukan pengaspalan ulang oleh pemkab Padang Pariaman. Jalan ini yang bisa menghubungkan Durian Jantung & Padang Polongan ke Padang Pariang di III Koto Aue Malintang Utara.

Ulasan ini kami publikasikan sesungguhnya bukan membahas jalan antar nagari yang ada di kec. IV Koto Aue Malintang, melainkan kondisi jalan penghubung antar korong yang ada di 5 nagari. Saat ini kondisi jalan nagari yang ada cukup memprihatinkan, dimana 70 % jalan nagari yang ada tidak layak pakai. Hal ini apabila mengkaji luas wilayah di kecamatan termuda Kab. Padang Pariaman bisa dimaklumi bahwa pembangunan jalan nagari akan terus dilakukan, baik melalui proyek pengerjaan jalan nagari oleh dinas PU kabupaten, maupun melalui program PNPM dimana masyarakat nagari bisa memusyawarahkan hal ini agar diperuntukan merehabilitasi jalan nagari.

Namun dunsanak saranah minang dimana saja berada, khususnya perantau Ikako Amal dipenjuru nusantara, apabila kita mengkaji rentang jumlah km jalan nagari yang ada, hal ini tidak bisa diharapkan untuk menunggu pembangunan dari Pemkab Padang Pariaman saja. Sebab alokasi dana yang terbatas & kondisi yang sama juga terjadi di banyak nagari-nagari di Padang Pariaman, membutuhkan perhatian bersama oleh perantau untuk sato sakaki membantu pembangunan jalan nagari.

Mengapa hal ini kami paparkan demikian? Semangat gotong royong masyarakat nagari yang saat ini sedang mambuncah melalui program kabupaten, memerlukan uluran tangan dari perantau untuk membantu pengadaan material pengerasan jalan yang menghubungkan antar korong di 5 nagari kec. IV Koto Aue Malintang. Dimana, masyarakat nagari saat ini secara rutin sepekan sekali melakukan gotong royong bersama memperbaiki jalan nagari, membutuhkan material semen sebagai bahan baku utama untuk membangun rabat beton jalan nagari. Hal ini sangat diperlukan, sebab kondisi jalan nagari yang sebagian besar adalah jalan tanah, apabila tidak dilakukan pengerasan dengan cor semen akan kembali pada bentuk semula sebelum dilakukan gotong rotong.

Menurut hemat kami, paling tidak dalam sebulan sekali, perantau-perantau Ikako Amal bisa mengirimkan bahan baku semen paling tidak 1-2 zak perorang, dimana hal ini akan sangat membantu proses pengerasan jalan yang dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat nagari. Apabila dimasing-masing korong bisa melakukan pengerasan jalan dengan metoda rabat beton dalam sebulan sekali, proses pembangunan jalan nagari progresnya akan semakin cepat & dengan cara gotong royong inilah nantinya yang akan menghubungkan ikatan lahir & bathin antara masyarakat nagari dengan perantau. Lagi pula, kalau bukan kita sebagai anak nagari, siapa lagi yang bisa diharapkan untuk membangun kampung halaman sendiri?

Dari 5 nagari yang ada di kec. IV Koto Aue Malintang, saat ini hanya nagari III Koto Aue Malintang Timur saja yang memiliki mesin molen yang sangat dibutuhkan untuk proses pengadukan material semen, pasir & kerikil. Kedepan sesuai harapan kami, semoga perantau-perantau dari 4 nagari lainnya bisa mengusahakan akan pemerintahan nagari memiliki mesin yang serupa, sehingga masyarakat yang ada di 50 Korong yang ada di 5 nagari kec. IV Koto Aue Malintang bisa secara bersama-sama memperbaiki kualitas jalan nagari.

Demikian publikasi tulisan tentang kondisi jalan nagari di kec. IV Koto Aue Malintang ini kami publikasikan, semoga kedepan perantau bersama-sama pemerintahan nagari bisa melakukan sinergi untuk meningkatkan mutu jalan nagari, amin ya Rabbal alamin.

wasalam
LPM Marapalam

Kondisi jalan nagari di Sarik Laweh, Korong Batu Caluang Nagari IIII Koto Aue Malintang Selatan, Padang Pariaman. Pengecoran jalan dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dimana pada trek pendakian dilakukan pengecoran dengan semen sehingga pada kondisi hujan masih bisa dilalui dengan mudah oleh kendaraan roda dua.

Jalan nagari di Batu Caluang yang menuju area persawahan di sepanjang tepian batang Tiku. Saat ini selain roda dua, jalan nagari ini juga dilalui oleh gerobak yang menggunakan tenaga kerbau untuk mengangkut hasil bumi dari area pertanian ke perkampungan penduduk.

Tampak pada foto jalan nagari di Korong Batu Caluang, Nagari III Koto Aue Malintang Selatan. Jalan ini dilakukan pemeliharaan dengan cara bergotong royong secara bersama-sama oleh masyarakat nagari. Karena kemampuan finasial masyarakat nagari yang masih terbatas, saat ini belum dilakukan pengerasan dengan rabat beton. Apabila hujan turun, jalan nagari ini disarankan tidak digunakan sementara waktu.

Jalan Nagari di Sarik Laweh, Korong Batu Caluang, Nagari III Koto Aue Malintang.

Jalan nagari di Durian Basi, Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang Selatan, kab. Padang Pariaman. Kondisi jalan nagari yang sudah dilakukan pengerasan jalan dapat dilanjutkan dengan pengecoran dengan sistem rabat beton.

Kondisi yang sama pada jalan nagari di Simpang Ampek Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang, Padang Pariaman. Jalan nagari ini memiliki panjang 6 km dengan kondisi sebahagian sudah dilakukan pengecoran dengan sistem rabat beton (terutama pada trek pendakian). Untuk trek yang lebih datar kondisinya bisa dilihat pada foto terlampir.

Salah satu trek pendakian di jalan nagari korong Koto Panjang, Nagari III Koto Aue Malintang, kab. Padang Pariaman. Pengecoran ini dilakukan agar jalan nagari ini tetap bisa digunakan apabila hujan turun.

Kondisi jalan nagari antara Durian Basi dengan Pulai Tinggi di Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang. Pada umumnya di 5 nagari pada kec. IV Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman jalan nagari yang ada dalam kondisi yang sama. Diperlukan peran serta masyarakat nagari untuk terus melakukan gotong royong yang dalam 4 bualn terakhir ini sedang giat-giatnya & sangat diharapkan peran perantau Ikako Amal untuk membantu pengadaan material semen untuk pengerasan jalan dengan sistem rabat beton.

Siswa SD Durian Basi, Korong Koto Panjang III Koto Aue Malintang Selatan, Padang Pariaman. Inilah generasi penerus masyarakat minang, dimana kita sebagai generasi terdahulu wajib memikirkan untuk mempersiapkan generasi muda untuk melanjutkan tanggung jawab mengatur tatanan masyarakat minangkabau agar semakin teguh memegang adagium Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Anak nagari III Koto Aue Malintang Selatan di kampung Pulai Tinggi Korong Koto Panjang yang membantu urang tuanya sepulang sekolah untuk mengupas buah pinang yang merupakan salah satu komoditi andalan masyarakat di Kec. IV Koto Aue Malintang, Padang Pariaman. Untuk mengirimkan hasil bumi ini dibutuhkan kondisi perhubungan yaitu jalan nagari yang lebih layak dari yang sudah ada saat ini.

Biji kakao yang sedang dikeringkan, merupakan salah satu komoditi andalan di kec. IV Koto Aue Malintang, yang juga merupakan komiditi andalan di kab Padang Pariaman. Seperti halnya komoditi lain, memerlukan kondisi sarana perhubungan jalan nagari yang lancar untuk memudahkan akses masyarakat nagari mendistribusikan hasil bumi ke pasar pengumpul.

Tanaman Kakao di kampung Pulai Tinggi Korong Koto Panjang, Nagari III Koto Aue Malintang, Kab. Padang Pariaman. Tampak pada foto sistem penanaman kakao dilakukan dengan metoda tumpang sari dengan tanaman pinang.

Kampung Pulai Tinggi merupakan salah satu perkampungan di titik tertinggi pada kec. IV Koto Aue Malintang, selain di kampuang Sianok, Korong Kampuang Tajuang, Kampuang Padang Asam Korong Kampuang Tangah, Lancang Mudiak, Korong Lancang & Korong Padang Polongan. Di wilayah hulu ini menghasilkan komoditi Kulit Manis (casiavera sp) yang merupakan komoditi masyarakat nagari di dataran tinggi ranah minang.

Wali Korong Koto Panjang, Syahrial Koto sedang menunjukan jalan nagari yang perlu dilakukan rabat beton mengingat trek jalan nagari ini merupakan jalan pendakian & hampir setiap hari dalam kondisi lembab/basah.

Masyarakat nagari di Pulai Tinggi Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman sedang mengangkut hasil pertanian komoditi jagung. Tampak pada foto jalan nagari yang telah dilakukan rabab beton dengan lebar jalan 2,5 meter yang merupakan hasil program PNPM 2010.

Proses perontokan pipil jagung di Durian Basi, Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang Selatan kab. Padang Pariaman. Di kec. IV Koto Aue Malintang kab Padang Pariaman, selain pertanian padi & kelapa, terdapat banyak hasil komoditi pertanian yang menjadi tumpuan masyarakat nagari, seperti cengkeh, pinang, kakao, jagung, kacang tanah, & kulit manis.

Proses perontokan pipil jagung di Durian Basi, Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang Selatan kab. Padang Pariaman. Seperti halnya komoditi yang lain, sangat memerlukan prasarana jalan penghubung antar korong yang layak agar masyarakat nagari bisa dengan mudah mendistribusikan hasil buminya ke pasar pengumpul.

Jalan nagari yang sudah dilakukan pengerasan dengan sistem rabat beton di Pulai Tinggi, Korong Koto Panjang Nagari III Koto Aue Malintang Selatan, Kab. Padang Pariaman. Tampak pada foto anak nagari yang pulang dari ladang kelapa mengumpulkan daun kelapa kering untuk diambil lidinya yang nantinya akan dijadikan sapu.

Sisi lain jalan nagari antara Durian Basi - Simpang Ampek di Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang, Kab. Padang Pariaman.

Sisi lain jalan nagari antara Durian Basi - Simpang Ampek di Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang, Kab. Padang Pariaman.

Mesin molen milik Nagari III Koto Aue Malintang Timur yang saat ini digunakan dalam proses pembangunan Masjid Nagari yang rusak ketika gempa 30 September 2009 yang lalu.

Jalan nagari di Korong Lancang, III Koto Aue Malintang Selatan, kab. Padang Pariaman setelah dilakukan gotong royong bersama. Apabila tidak dilakukan pengerasan jalan dengan sistem rabat beton, dalam waktu 6-12 bulan mendatang, kondisi jalan nagari ini akan kembali seperti semula ketika belum dilakukan gotong royong. Semoga dengan publikasi foto & video ini bisa menjalinkan sinergi antara perantau Ikako Amal dengan pemerintahan nagari sehingga perbaikan mutu jalan nagari di kec. IV Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman bisa dilakukan dimasa mendatang.

Survey & Sosialisasi Kegiatan Pendampingan Website Nagari Di Cluster V Koto Kampuang Dalam & V Koto Timur, Kab Padang Pariaman

Sesuai rencana, perjalanan LPM Marapalam melakukan sosialisasi kepada 5 pemerintahaan nagari di Kec. V Koto Kampuang Dalam & Kec. V Koto Timur kab. Padang Pariaman untuk keperluan rencana pendampingan website nagari yang sepenuhnya akan didukung oleh perantau-perantau dari 2 kecamatan ini (IK LIMKOS – Ikatan Keluarga Limo Koto & sekitarnya) yang merupakan sinergi dari Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP) & Pemkab. Padang Pariaman.

Tim memulai survey 23 Februari 2012 pukul 11.00 wib dari Pariaman, yang kemudian mengunjungi nagari Campago, V Koto Kampuang Dalam. Diterima oleh Wali Nagari Campago, Fabet Effendi untuk sosialisasi sekaligus melakukan pendataan koneksi internet yang terdapat di nagari serta jumlah perangkat komputer yang dimiliki. Selanjutnya perjalanan diteruskan menuju nagari Kudu Gantiang, V Koto Timur untuk melakukan pendataan. Rute ini dipilih karena wali nagari Sikucue, Masril sedang melakukan pertemuan dengan bupati Padang Pariaman Ali Mukhni untuk menyerahkan bantuan dari pangajian wirid yasin SKPD Pemkab Padang Pariaman di Toboh Marunggai kepada Netti Irawati, anak nagari Sikucue yang menderita penyakit kanker kulit ganas.

Dari hasil koordinasi dengan wali nagari Kudu Gantiang, Syafnil Oyon, yang sedang menghadiri kegiatan Badikie di beberapa surau nagari bersama Camat V Koto Timur, Nini Arlin S.Sos, dilakukan dokumentasi & pendataan di kantor pemerintahan nagari yang diterima oleh Seknag Kudu Gantiang, Dedi Aprianto, SE.

Perjalanan diteruskan ke nagari Gunuang Padang Alai, V Koto Timur & diterima oleh wali nagari Gunuang Padang Alai, Syafrizal SH. Setelah melakukan pendataan, kemudian perjalanan dilanjutkan ke nagari Sikucue, V Koto Kampuang Dalam, bertemu dengan Wali Nagari Masril. Setelah ba’da Maghrib tim LPM Marapalam bersama wali nagari menuju kantor pemerintahan nagari Sikucue untuk meninjau langsung kondisi peralatan yang ada serta melakukan dokumentasi.

Atas koordinasi wali nagari Sikucue, malam itu juga dihubungi via ponsel wali nagari Limau Puruik, Arifnal SPd & sepakat bertemu di rumah beliau. Setelah dilakukan sosialisasi, dirundingkan bersama dengan wali nagari Sikucue untuk melakukan pertemuan esok harinya di kantor pemerintahan nagari Campago bersama 5 wali nagari beserta 2 Camat. Semula jadwal pertemuan direncanakan pagi hari, namun setelah koordinasi dengan seluruh wali nagari bersama kecamatan disepakati untuk melakukan pertemuan pukul 15.00 wib 24 Februari 2012 di kantor pemerintahan nagari Campago, V Koto Kampuang Dalam.

Keesokan harinya, tepat pukul 15.00 wib diadakan pertemuan bersama antara LPM Marapalam dengan 5 wali nagari di 2 kecamatan bersama camat V Koto Timur & Sekcam V Koto Kampuang Dalam. Lokasi pertemuan dilakukan di depan kantor pemerintahan nagari, hal ini dikarenakan ruang pertemuan kantor pemerintahan nagari masih dipakai oleh masyarakat untuk pertemuan membahas koperasi nagari bersama-sama lembaga nagari terkait.

Dari hasil pertemuan dilakukan sosialisasi tentang rencana kegiatan pendampingan website nagari ci Cluster V Koto Kampuang Dalam & V koto Timur, dimana seluruh hal teknis dibahas mulai dari peralatan pelatihan, bantuan peralatan dari perantau, koneksi jaringan internet, jumlah peserta pelatihan yang dibutuhkan, waktu pelatihan serta koordinasi dengan organisasi perantau IK LIMKOS, DPP PKDP & Tim Petik Pemkab Padang Pariaman.

Setelah data perantau diperoleh dari masing-masing wali nagari, pada saatnya data ini akan diteruskan oleh LPM Marapalam ke DPP PKDP di Jakarta untuk kemudian dilakukan sosialisasi serta koordinasi menyeluruh kepada perantau-perantau yang berasal dari 5 nagari di kec. V Koto Kampuang Dalam & kec. V Koto Timur, kab. Padang Pariaman.

========================

1. Nagari Campago, V Koto Kampuang Dalam (WN Fabet Effendi).

a. Koneksi jaringan internet : line telepon/speedy : sejak pasca gempa 2009 tidak terpasang => Dilakukan pendaftaran kembali beserta paket speedy unlimited paket socialia.

b. Peralatan yang ada saat ini 3 unit komputer dengan spesifikasi :

PC 1
– Intel Pentium IV 2,4 GHz
– Monitor LCD 15″
– Hardisk 40 Gygabyte
– Memorry 512 Megabyte

PC 2
– Intel Pentium IV 2,8 GHz
– Monitor CRT 15″
– Hardisk 80 Gygabyte
– Memorry 512 Megabyte

PC 3
– Intel Pentium IV 1,8 GHz
– Monitor CRT 15″
– Hardisk 40 Gygabyte
– Memorry 512 Megabyte
Printer
– Printer HP 3920 kondisi baik
– Printer HP 3920 kondisi baik
– Printer HP D1660 kondisi baik

c. Perlu penambahan 1 unit komputer Intel Pentium Dual Core dari perantau.
========================

2. Nagari Sikucue, V Koto Kampuang Dalam (WN Masril)

a. Kondisi Jaringan GSM buruk (Telkomsel)

b. Peralatan yang ada saat ini 1 unit komputer dengan spesifikasi :
– Intel Pentium Core to duo 2,2 GHz
– Monitor LCD Samsung 19″
– Hardisk 160 Gygabyte
– Memorry 1 Gygabyte

Printer
– Printer Canon IP 2770 kondisi baik

c. Perlu tambahan 1 unit komputer Intel Pentium Dual Core + Modem USB type Highspeed + Antenna Penangkap Sinyal + Camera Digital Pocket dari perantau.
========================

3. Nagari Limau Puruik, V Koto Timur (WN Arifnal, SPd)

a. Kondisi Jaringan GSM Buruk (Telkomsel)

b. Peralatan yang ada saat ini 1 unit komputer dengan spesifikasi :
– Intel Pentium Dual Core 2,7 GHz
– Monitor LCD Acer 19″
– Hardisk 160 Gygabyte
– Memorry 1 Gygabyte

Printer
– Printer Canon IP 2770 kondisi baik

c. Perlu tambahan 1 unit komputer Dual Core + Modem USB type Highspeed + Antenna Penangkap Sinyal + Camera Digital Pocket dari perantau.
========================

4. Nagari Kudu Gantiang, V Koto timur (WN Syafnil Oyon)

a. Kondisi Jaringan GSM Buruk (Telkomsel)

b. Peralatan yang ada saat ini 1 unit komputer dengan spesifikasi :
– AMD Athlon 2,9 GHz
– Monitor LCD Acer 15″
– Hardisk 160 Gygabyte
– Memorry 1 Gygabyte

Printer
– Printer Canon IP 2770 kondisi baik

c. Perlu tambahan 1 unit komputer Dual Core + Modem USB type Highspeed + Antenna Penangkap Sinyal + Camera Digital Pocket dari perantau.
========================

5. Nagari Gunuang Padang Alai, V Koto timur (WN Syafnil Oyon)

a. Kondisi jaringan GSM : Baik (Telkomsel).

b. Peralatan yang ada saat ini hanya mesin tik, kantor pemerintahan nagari rata dengan tanah ketika gempa 29 September 2009.

c. Perlu tambahan 1 unit komputer Dual Core + Modem USB type Highspeed + Printer Inkjet + Camera Digital Pocket dari perantau.

========================

Berikut hasil laporan ringkas yang dapat kami lakukan pada Cluster V Koto Kampuang Dalam & V Koto Timur, kab. Padang Pariaman. Semoga bermanfaat, amin ya Rabbal alamin.

Padang, 26 Februari 2012

LPM Marapalam

Kantor Pemerintahan Nagari Campago, Kec. V Koto Kampuang Dalam. Tampak pada foto, tiang telepon PT Telkom yang merupakan infrastruktur jaringan internet koneksi telepon yang bisa digunakan nagari dengan fasilitas speedy.

Sisi lain kantor pemerintahan nagari Campago, pada gambar terlihat gedung pemerintahan ini dalam kondisi layak pakai, namun apabila kita melihat pada sisi bagian dalam sebenarnya banyak terdapat retakan yang harus diperbaiki dengan segera akibat gempa 30 September 2009 yang lalu.

2 unit komputer yang digunakan pada ruangan Kaur pemerintahan nagari Campago untuk memproduksi surat-surat pelayanan masyarakat nagari.

1 unit kumputer pada ruangan sekretaris nagari Campago, Kec. V Koto Kampuang Dalam.

Kantor darurat pemerintahan nagari Kudu Gantiang, Kec. V Koto Timur. Kantor ini merupakan bangunan semi permanen dengan dinding triplek. Saat ini kantor pemerintahan nagari Kudu Gantiang dalam kondisi rusak berat akibat gempa 30 September 2009.

Sisi lain kantor pemerintahan nagari Kudu Gantiang, Kec. V Koto Timur.

Sekretaris nagari bersama Kaur di kantor pemerintahan nagari Kudu Gantiang saat menerima LPM Marapalam untuk keperluaan pendataan infrstruktur & peralatan komputer di nagari.

Peralatan komputer yang dimiliki pemerintahan nagari Kudu Gantiang, Kec. V Koto Timur

Bersama Wali Korong, Sekretaris nagari & Kaur di kantor pemerintahan nagari Kudu Gantiang.

Tampak pada foto kantor darurat pemerintahan nagari Gunuang Padang Alai, Kec. V Koto Timur. Pada sebelah kiri foto terlihat sisa bangunan kantor pemerintahan nagari Kudu Gantiang yang hancur ketika gempa 30 September 2009. Menurut informasi yang diterima dilapangan, pemkab Padang Pariaman memprioritaskan pembangunan kembali kantor pemerintahan nagari ini.

Sisi depan kantor pemerintahan nagari Gunuang Padang Alai.

Saat ini pemerintahan nagari Gunuang Padang Alai tidak memiliki perangkat komputer untuk pelayanan masyarakat nagari. Hanya tersisa 1 unit mesing tik yang berhasil selamat dari bencana gempa 30 September 2009.

Wali Nagari Gunuang Padang Alai bersama staf ketika menerima LPM Marapalam untuk melakukan pendataan peralatan & kondisi jaringan internet di nagari.

Meja komputer yang masih bisa diselamatkan ketika gempa 30 September 2009. Mudah-mudahan dengan publikasi ini perantau LIMKOS bisa membantu pengadaan peralatan komputer paling tidak 2 unit untuk kelancaran pelayanan masyarakat nagari Gunuang Padang Alai dengan jumlah penduduk 10.196 jiwa (sensus penduduk 2010).

Tampak depan kantor pemerintahan nagari Sikucue, Kec. V Koto Kampuang Dalam. Tampak pada foto pada sisi kanan bangunan disangga dengan kayu. Sekitar 45% diding bagian atas bangunan kantor hanya bertumpu pada bata bagian bawah. Sudah selayaknya kantor ini dilakukan perbaikan segera, semoga perantau bisa memberikan bantuan dimasa yang akan datang.

Kayu penyangga ini digunakan untuk mengurangi beban dinding terhadap berat atap bangunan kantor pemerintahan nagari Sikucue.

Bagian samping kantor pemerintahan nagari Sikucue dilihat dari dalam. Semoga bisa dilakukan perbaiakan secepatnya.

Peralatan komputer di kantor pemerintahan nagari Sikucue, Kec. V Koto Kampuang Dalam

Wali Nagari Sikucue, Masril ketika menerima LPM Marapalam untuk melakukan pendataan perangkat komputer serta koneksi jaringan GSM. Nagari ini merupakan salah satu nagari di Cluster V Koto Kampuang Dalam & V Koto Timur yang memiliki koneksi GSM terlemah dengan minimnya jumlah antenna terpasang di tower provider Telkomsel dengan jumlah penduduk 15.921 jiwa (sensus 20100. Tingginya jumlah pengguna ponsel mengakibatkan jaringan koneksi GSM di nagari ini kerap overload pada jam tertentu.

Kantor pemerintahan nagari Limau Puruik, Kec. V Koto Timur yang saat ini tidak digunakan untuk sementara waktu akibat kerusakan yang dialami ketika gempa 30 September 2009.

Meskipun tidak digunakan lebih 2 tahun, kantor pemerintahan nagari Limau Puruik secara swadaya terus dilakukan perbaikan secara bertahap. Tampak pada foto tiang bangunan yang diganti & diperbanyak untuk mempertahankan bangunan di wilayah rawan gempa.

Kantor darurat pemerintahan nagari Limau Puruik, Kec. V Koto Timur. Kantor ini 100 % materialnya dibuat dari bahan kayu.

Peralatan komputer di kantor pemerintahan nagari Limau Puruik, Kec. V Koto Timur.

Sisi lain kantor pemerintahan nagari Limau Puruik.

Pertemuan bersama LPM Marapalam dengan 5 Wali Nagari Cluster V Koto Kampuang Dalam & V Koto Timur, Camat V Koto Timur beserta Sekretaris Camat V Koto Kampuang Dalam.

Ke 5 Wali Nagari sedang berdiskusi membahas rencana pendampingan website nagari bersama Camat V Koto Timur, Nini Arlin, S.Sos (baju biru), tampak di sebelah kanan Camat V Koto Timur adalah Wali Nagari Kudu Gantiang, Syafnil Oyon, lalu Wali Nagari Limau Puruik, Arifnal SPd, kemudian Wali Nagari Campago, Fabet Effendi (menghadap kamera), Sekretaris Camat V Koto Kampuang Dalam, Syafril SPd (memakai peci), Wali Nagari Sikucue, Masril (memakai topi).

Sekretaris Camat V Koto Timur , Syafril SPd & Wali Nagari Campago, Fabet Effendi dalam diskusi bersama LPM Marapalam.

Wali Nagari Sikucue, Masril bersama Wali Nagari Gunuang Padang Alai, Syafrizal, SH.

Wali Nagari Kudu Gantiang, Syafnil Oyon bersama Camat V Koto Timur, Nini Arlin, S.Sos

Diskusi bersama dilakukan di palanta depan kantor pemerintahan nagari Campago, Kec. V Koto Kampuang Dalam. Hal ini dikarenakan rapat koperasi masyarakat nagari Campago masih berlangsung di kantor pemerintahan nagari.

Masyarakat nagari Campago yang sedang melakukan pertemuan membahas koperasi nagari.

Tampak dari pintu masuk kantor pemerintahan nagari, palanta diskusi ke 5 wali nagari kec. V Koto Kampuang Dalam & V Koto Timur bersama Camat V Koto Timur & Sekcam V Koto Kampuang Dalam.

Wali Nagari Limau Puruik, Arifnal SPd sedang menulis daftar nama perantau beserta kontak person yang diperlukan DPP PKDP untuk mensosialisasikan kegiatan pendampingan website nagari di Cluster V Koto Kampuang Dalam & V Koto Timur.

Wali Nagari Gunuang Padang Alai, Syafrizal, SH sedang menulis daftar nama perantau beserta kontak person yang diperlukan DPP PKDP untuk mensosialisasikan kegiatan pendampingan website nagari di Cluster V Koto Kampuang Dalam & V Koto Timur.

Lubuak Larangan Alahan Bakali, Simpang Sarik Manih Nagari III Koto Aue Malintang Utara

Gotong royong membangun nagari merupakan khazanah lama dari budaya minangkabau, dimana pada tradisi lisan minangkabau disebutkan kebersamaan dalam masyarakat di nagari merupakan modal penting untuk membangun nagari. Kali ini LPM Marapalam berada di Cluster IV Koto Aue Malintang kabupaten Padang Pariaman dalam kegiatan pedampingan website nagari dimana hal ini berlangsung atas kerjasama DPP PKDP dengan pemkab Padang Pariaman dalam membangun jejaring nagari cyber yang dicanangkan sejak Januari 2012.

Pagi itu, 26 Januari 2012 setelah saya memberikan materi pelatihan website nagari selama 2 hari berturut-turut khusus untuk admin-admin di nagari III Koto Aue Malintang  Utara, tersusun rencana untuk melakukan hunting ke 6 korong yang ada di nagari ini. Sebenarnya akan sangat baik apabila hal ini didampingi oleh masing-masing wali korong yang ada, sehingga dokumentasi potensi nagari yang ada bisa diekspos lebih maksimal. Namun dunsanak seranah minang, survey & sosialisasi yang telah kita lakukan secara lisan pada 21-22 November 2011 yang lalu terkadang koordinasinya tidak berjalan seperti yang kita harapkan, sebab pada masa itu terjadi transisi kepemimpinan di 4 dari 5 nagari yang ada di cluster IV Koto Aue Malintang,  dari Pjs wali nagari yang ada ke wali nagari defenitif yang dipilih secara demokrasi langsung. Hal ini tidaklah bisa kita dengan serta merta menyalahkan individu perangkat nagari yang ada, sebab lebih terpulang bagaimana komunikasi perantau dengan pemerintahan nagarinya sehingga lebih siap dalam kegiatan pendampingan website nagari.

Pagi itu saya keluar dari kantor pemerintahan nagari III Koto Aue Malintang Utara di Padang Lariang setelah mengunci pintu kantor serta menitipkannya kepada tetangga di sebelah kantor. Sesuai rencana dari hasil mempelajari peta nagari edisi 1935 yang saya edit sendiri dari literatur peta Sumatera Universitas Leiden Belanda, serta hasil liputan sepekan yang lalu ke Sadang, Simpang Sarik Manih ketika menghadiri lomba PKK tingkat provinsi yang dibuka oleh bupati Ali Mukhni, pagi ini akan menncoba menyusuri jalan kampung di Landua melerengi perbukitan hingga ke batang Antokan di Korong Sarik Manih. Dari tofografi peta yang ada ada kemungkinan mendapatkan foto panorama persawahan di nagari dari atas perbukitan. Ternyata dugaan saya tidak keliru, subhanallah…. pagi itu terpampang keindahan alam yang indah, dimana terbentang persawahan mulai dari Siguhuang hingga ke Lubuk Basung kabupaten Agam, dengan keindahan aliran batang Antokan yang berhulu di Maninjau nun jauh disana akan bermuara di Muaro Putuih nagari Tiku Utara kec. Tanjuang Mutiara kab. Agam.

Keindahan panorama persawahan di Landua, nagari III Koto Aue Malintang Utara, Padang Pariaman dari perbukitan dengan sisi pandang 180º. Tampak aliran batang Antokan yang berhulu di danau Maninjau yang saat ini sering digunakan sebagai aset wisata arung jeram oleh wisatawan yang datang.

Setelah menyusuri persawahan & tiba disebarang, niat semula akan mengunjungi korong Siguhuang yang berada di sebelah korong Simpang Sarik Manih. Namun sebelum tiba di Siguhuang, mata saya terpaku melihat aliran tali air yang digunakan masyarakat untuk usaha budidaya keramba ikan air tawar. Ukuran ikan yang ada disini rata-rata sudah mencapai berat 700 gram per ekor, mungkin 2 bulan kedepan sudah tiba pula masanya untuk dipanen. Selain keramba yang ada, kiranya Ikatan Pemuda Simpang Sarik Manih juga memiliki lubuk ikan larangan di tali air ini, dimana pada bagian luar keramba terdapat ikan raya (mas) yang berenang bebas di tali air. Biasanya setahun sekali lubuk larangan selalu dilakukan pembongkaran dimana pemuda sebagai salah satu kelompok masyarakat di nagari akan mempergunakan hasil penjualan ikan tersebut untuk kegiatan yang ada di nagari.

Keramba ikan air tawar yang terdapat pada saluran tali air irigasi persawahan, dimana masyarakat setempat memanfaatkan bagian tepi tali air untuk digunakan usaha budidaya keramba ikan air tawar. Jenis varietas ikan yang sering dibudidayakan disini adalah ikan raya (mas) & ikan nila dengan masa panen 6 bulan sekali.

Perjalanan saya lanjutkan terus ke arah mudiak, menyusuri tepi batang air Antokan dengan tujuan Siguhuang. Namun diperjalanan sepeda motor yang saya kendarai kembali terhenti ketika berada di pertigaan. Apabila arah yang saya tempuh terus ke hulu akan memasuki wilayah Siguhuang & pada sebelah kanan tampak jembatan buai kontruksi besi yang tampaknya baru  setahun dibangun, dimana kondisi cat & lantai jembatan masih kelihatan kondisi baru. Terus terang hati saya menjadi bercabang, mungkin lebih baik dicoba untuk mengunjungi kampung di sebarang, lagi pula persawahannya tertata dengan rapi yang tentu saja sangat menggoda untuk didokumentasikan. Lagi pula hari masih pagi, mungkin saja nanti diperjalanan bisa ditemui petani yang sedang membajak sawah atau aktifitas lainnya. Tentunya akan sangat berguna apabila bisa berkomunikasi langsung dengan petani, mulai dari harga pupuk, bibit ikan, harga jual hasil tani dan lain sebagainya yang sangat membantu mengukur digunakan sebagai penilaian tingkat kesejahteraan petani disini. Dan ternyata saya memang beruntung pagi ini, mengapa?

Jembatan buai konstruksi besi yang menghubungkan kampung Alahan Bakali dengan Simpang Sarik Manih. Jembatan pada batang air Antokan ini merupakan hasil program PNPM tahun 2010, dimana dana program PNPM melalui hasil musyawarah masyarakat nagari diperuntukan membangun jembatan sehingga transportasi masyarakat bisa lebih lancar untuk mengirimkan hasil bumi.

Mengapa saya sebutkan sangat beruntung? Sebab peristiwa pembongkaran lubuk larangan hanya dilakukan sekali setahun. Bahkan untuk batang Tiku & batang Gasan Gadang di nagari III Koto Aue Malintang Selatan, kegiatan ini hanya dilakukan 2 tahun sekali. Bagi saya yang memang bukan anak nagari, sebab berasal dari luhak 50 Koto & babako ka luhak Agam, akan sangat menarik bisa meliput kegiatan membongkar lubuk larangan yang ada disini. Informasi ini saya dapatkan ketika singgah ke sebuah lapau (satu-satunya) yang ada di Alahan Bakali. Setelah mempekenalkan diri, mulai berbasa-basi seperti umumnya cara berinteraksi di nagari diperoleh informasi bahwa hari ini akan dilakukan gotong royong bersama untuk membongkar lubuk larangan.

Demikianlah essay foto tentang kegiatan gotong royong masyarakat nagari di kampung Alahan Bakali, Korong Simpak Sarik Manih, Nagari III Koto Aue Malintang Utara, kabupaten Padang Pariaman yang jaraknya hanya 7 km dari Lubuk Basung ibukota kabupaten Agam. Semoga essay ini juga memberikan paparan bagi kita semua masyarakat minang yang ada di berbagai belahan dunia bahwa sangat penting artinya memberdayakan ulayat nagari yang ada untuk membangun infrastruktur di nagari dengan semangat gotong royong. Salam dari ranah minang, tanah pusako bundo kanduang – LPM MARAPALAM.

Masyarakat kampung Alahan Bakali yang sedang berkumpul di lapau. Rupanya pagi ini direncanakan akan membongkar lubuk larangan di sebelah selatan kampung. Sebelum aktifitas dilakukan, masyarakat bermusyawarah terlebih dahulu bagaimana teknis pelaksanaan pembongkaran lubuk larangan. Untuk diketahui, malam sebelumnya para tokoh masyarakat termasuk niniak mamak sudah memutuskan bahwa pagi ini lubuk larangan di wilayah selatan akan dibongkar yang hasilnya akan digunakan untuk pembangunan jembatan di wilayah hilir.

Setiap laki-laki di kampung ini, mulai dari urang sumando hingga ke mamak bergotong royong untuk maampang batang Alahan Bakali yang aliran airnya berasal dari batang antokan. Batang air ini panjangnya kira-kira 2 km yang pada wilayah hilirnya kembali bermuara ke batang Antokan.

Foto ini secara jelas menyampaikan bahwa masyarakat di nagari adalah petani yang rajin bergotong royong. Kampung Alahan Bakali ini posisinya berada pada wilayah paling hulu (mudiak) di korong Simpang Sarik Manih. Seperti tip yang selalu saya berikan kepada dunsanak dimana saja yang ingin melihat nagari yang masih kental kebersamannya, carilah wilayah mudiak dimana pengaruh budaya dari luar belum begitu terasa, sehingga kita bisa melihat kehidupan masyarakat di nagari nan saiyo sakato, hidup badunsanak, tampek batenggang raso jo pareso.

Penutupan aliran batang air selain dilakukan dengan tumpukan batu juga disertai dengan terpal plastik. Dengan kerjasama seluruh masyarakat baik pemuda, mamak & urang sumando, dalam waktu hanya beberapa jam kegiatan ini bisa dirampungkan.

Kondisi batang Alahan Bakali setalah 2 jam selesai diampang. Sesuai hasil musyawarah, batang air ini akan ditutup selama 1 bulan ke depan, Dimana pada batang air sepanjang + 2 km akan dibangun keramba pada bagian tepi sehingga penghasilan masyarakat bisa bertambah. Hal ini bisa dilakukan apabila gotong royong nan sato sakaki, barek samo dipikua bisa dilakukan di nagari. Adalah hal yang penting kegiatan ini bisa dilakukan pada ratusan nagari yang ada di ranah minang, sehingga proses babaliak ke sistem pemerintahan nagari bisa mencapai sasaran.

Jembatan inilah yang nantinya akan dillakukan perbaikan dari hasil penjualan ikan Lubuak larangan Alahan Bakali. Sejak dari dulu, masyarakat disini selaku melakukan swadaya bersama membangun infrastruktur yang ada di nagari.

Tampak pada foto bagian samping jembatan yang telah terpasang gorong-gorong dengan cara swadaya. Walau tampak konstruksinya sangat sederhana, hal ini sangat dibutuhkan masyarakat dalam aktifitas sehari-hari yang bersawah & berladang, sehingga hasil bumi bisa didistribusikan langsung ke pasar di Lubuk Basung.

Seluruh masyarakat kampung Alahan Bakali tumpah ke batang air melakukan pemanenan ikan di lubuk larangan. varietas ikan yang ada antara lain : leman, raya, baung, gariang, nila & panjang. Di banyak nagari, kondisi batang air yang ada saat ini sudah jarang teradapat lubuk larangan. Akan lebih baik apabila di nagari-nagari di ranah minang hal ini bisa digiatkan kembali, selain untuk menjaga kelestarian sungai, juga bisa menopang perekonomian nagari & pembangunan infrastruktur yang ada nagari.

Salah satu ikan endemik Sumatera yang disebut ikan Panjang, walaupun bentuknya agak berbeda, memiliki cita rasa yang sangat gurih. Pada kegiatan membongkar lubuk larangan, baik tua maupun muda saling bacirabuik menangkap ikan yang ada sebagai salah satu gurauan ketika membongkar lubuk larangan.

Inilah ikan panjang terbesar yang berhasil ditangkap & terekam oleh kamera. Ketika terlihat seluruh masyarakat basihonjak riuh mengejar ikan ini agar tidak lari ke air. Posisi saya pada saat itu berada di atas jembatan, sehingga mudah mengabadikannya.

Mamak & kemanakan sama-sama berjibaku mencoba menangkap ikan panjang. Cara yang efektif menangkap ikan panjang adalah menggunakan sabit atau melemparnya dengan batu sungai. Perlu waktu paling tidak 20 menit hingga ikan ini menyerah setelah sempat menghilang ke dalam air. Warna tubuh yang coklat kehitang

Ikan Panjang terbesar hasil tanggapan masyarakat kampung Alahan Bakali. Untuk menangkap ikan ini diperlukan kehati-hatian, sebab dapat menggigit & menimbulkan luka yang cukup serius. Menurut keterangan masyarakat setempat apabila tergigit bagian anggota tubuh seperti jari tangan ataupun kaki, akan cukup sulit melepaskan gigitannya.

Ketika matahari mulai beranjak sore, masyarakat berkumpul di hilir batang air yang kembali bermuara di batang Antokan. Disini terpasang lukah yang merupakan alat tangkap terakhir yang digunakan untuk mengumpulkan ikan yang bergerak ke hilir sungai.

Kedua bocah ini menunggu dengan harap lukah yang akan dibuka ayahnya sambil berdoa semoga hasil yang diperoleh cukup banyak. Tentu saja bagi perantau minang hal ini adalah kenangan dimasa kecil yang tidak terlupakan, dimana dimasa kecil apabila mendapatkan seekor ikan yang cukup besar untuk diri sendiri adalah kebahagian yang tak terhinggga.

Ikan yang ditangkap kemudian dikumpulkan berdasarkan jenis, yang kemudian akan dibagi menjadi 42 tumpukan berdasarkan jumlah KK yang ada di Alahan Bakali, Korong Simpang Sarik Manih, Nagari III Koto Aue Malintang Utara, Padang Pariaman.

Tumpukan ikan hasil tangkapan bersama mulai dibagikan. Sore itu, diperoleh 42 tumpukan yang beratnya sekitar 4-5 kg per tumpuk. 41 tumpukan akan dibagikan dengan disertai penggantian uang oleh masyarakat nagari yang memperolehnya. Setelah itu, ikan yang ada bisa dibawa pulang ataupun dijual kembali oleh masyarakat kepada pengumpul yang akan menjualnya ke nagari sekitar. 1 tumpukan tersisa diberikan khusus oleh ketua pemuda IKPPS kepada fotografer... "Tarimo kasih pak ketua, indak ado doa panulak rasaki doh".

Ketua pemuda sedang memeriksa daftar nama masyarakat yang sudah menerima tumpukan ikan yang menjadi miliknya. Untuk 1 tumpukan, walaupun diperoleh masyarakat sendiri, harus disertai penggantian uang sebesar Rp. 35.000,-. Uang hasil penjualan inilah yang nantinya akan digunakan untuk memperbaiki jembatan yang ada.

Kebutuhan Peralatan Pendampingan Website Nagari

Assalamualaikum wr wb

Berikut kami lampirkan kebutuhan peralatan pendampingan website nagari  dalam rincian 1 Set yang nantinya akan dipakai oleh LPM Marapalam untuk pendampingan di nagari-nagari kab. Padang Pariaman. Peralatan yang selama tahun 2011 yang digunakan untuk pendampingan website nagari selama ini masih merupakan milik pribadi & pinjaman dari beberapa rekan yang ingin membantu menyukseskan rencana pendampingan website nagari di 135 kecamatan pada 11 kabupaten di Sumatera Barat.

Berikut kami rincikan item peralatan yang dibutuhkan untuk 1 unit peralatan pendampingan website nagari beserta rincian harga yang bisa berubah sewaktu-waktu sesuai fluktuasi dollar & ketersedian barang :

Kebutuhan peralatan pendampingan website nagari

Untuk 60 nagari di 17 kecamatan pada kabupaten Padang Pariaman yang terdiri dari 13 cluster membutuhkan paling tidak 2 set peralatan agar target pendampingan yang direncanakan berlangsung mulai Januari hingga Desember 2012 bisa diselesaikan. Dengan begitu LPM Marapalam bisa melakukan pendampingan pada 10 kabupaten lainnya di provinsi Sumatera Barat.

Diagram Peralatan Pelatihan Website Nagari Untuk Wilayah Nagari Terhubung Dengan Line Telepon PT Telkom >> dengan mendaftarkan line telepon pada setiap kantor pemerintahan nagari dan menggunakan paket speedy Socialia line speed 384 kb/s unlimited biaya bulanan Rp. 195.000,- + ppn 10 %

Pendampingan website nagari yang akan dilakukan LPM Marapalam berdasarkan MOU yang telah disepakati Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) dengan pemkab Padang Pariaman pada akhir Oktober 2011 yang lalu di Jakarta nantinya akan diperoleh sumbangan bantuan peralatan senilai Rp. 2.500.000,- pada setiap cluster yang telah dilakukan pendampingan dari organisasi perantau (IK) nagari yang dilakukan pendampingan. Dengan jumlah 13 cluster diharapkan LPM Marapalam bisa terus melengkapi peralatan yang dimiliki sehingga pendampingan webiste nagari-nagari bisa terus dilakukan dimasa yang akan datang pada 135 kecamatan tersebar di 11 kabupaten pada provinsi Sumatera Barat.

Dengan demikian, kita sangat berharap dengan terhubungnya akses komunikasi yang dapat merekayasa batas ruang, waktu & wilayah ini akan bisa menjalin komunikasi pemerintahan nagari bersama masyarakat nagarinya dengan perantau yang tersebar di nusantara hingga mancanegara, komunikasi antar nagari di Sumatera Barat serta komunikasi dengan pemerintahan daerah kabupaten & provinsi.

Minangkabau Youth Camp

Minangkabau Youth Camp dirancang untuak memperkenalkan nagari dengan segala keunikannya kepada generasi muda minangkabau yang lahir & besar diperantauan. Event ini akan dilakukan pada tanggal akhir Juni 2012 untuk mengenalkan lebih dekat kepada peserta bagaimana sistem pemerintahan nagari beserta adat salingka nagarinya serta  keindahan alam yang terdapat di nagari. Dengan begitu ada beberapa syarat yang harus dipenuhi apabila suatu nagari dijadikan lokasi MYC, yang antara lain :
  1. Sifat kooperatif pemerintahan nagari & elemen masyarakat nagarinya dalam mengorganizer event ini sehingga dalam 2-3 event yang dilansungkan pemerintahan nagari bersama-sama masyarakat nagari dengan pendampingan LPM Marapalam, nagari sudah bisa mengorganizer event ini untuk masa yang akan datang.
  2. Potensi adat & budaya serta keindahan alam di nagari & nagari sekitar. Talang Babungo adalah sebuah nagari di ranah minang yang posisinya agak tersuruk (bukan terbelakang) seperti halnya banyak nagari di ranah minang. Posisi ini seperti nagari Sulik Aie di kec. X Koto Diateh, nagari Sumpur Kudus di Sijunjung, dan banyak nagari-nagari lainnya yang bukan berada dijalur perlintasan umum (sedikit masuk kedalam) sehingga kultur masyarakatnya adatnya masih cukup kuat baik dalam  hal bergotong royong maupun memelihara tradisi minang seperti sasaran silek, musik tradisional, pasambahan dan lain sebagainya.
  3. Keindahan alam nagarinya, tentu saja banyak nagari-nagari di ranah minang yang memiliki keindahan alam yang mempesona. Namun untuk event Minangkabau Youth Camp perlu hal lebih dari sekedar keindahan alam semata, dimana keindahan alam juga harus disertai keindahan hidup banagari yang masih terjaga. Akan sulit mengorganizer event ini apabila kehidupan banagari tidak seindah alam yang ada, dimana 40-50 peserta yang akan mengikuti event ini akan berbaur dengan masyarakat nagari, sehingga perlu dukungan penuh serta keramahtamahan urang awak di kampung halaman yang bisa didapatkan oleh peserta Minangkabau Youth Camp dan nantinya akan mereka bawa pulang untuk diceritakan kembali kepada sanak keluarga dirumah & info ini bisa sharing secara luas pada media internet oleh peserta Minangkabau Youth Camp yang merupakan generasi muda tentu saja lebih familiar menggunakan media IT.
Hari 1 - 5 membuat camp di nagari Talang Babungo Hari 6-7 field trip pada hari pertama ke Jembatan Akar nagari Puluik-Puluik & Air Terjun Bayang Sani serta mengunjung kawasan Wisatan Mandeh. Hari Kedua menuju nagari-nagari di Tanah Datar antara lain menginap di nagari Sumpu, rumah gadang Tuo di nagari Balimbiang, komplek Istano Basa Pagaruyuang, situs Batu Batikam & Kubu Rajo di Limo Kaum, Balairung Sari di nagari Tabek & mengunjungi nagari tuo Pariangan.

Rute Minangkabau Youth Camp

Adapun tujuan dari Minangkabau Youth Camp ini memiliki banyak sisi yang bisa dicapai dalam satu event. Seperti yang kita tahu, pengelolaan pariwisata di ranah minang sifatnya masih dalam taraf usaha/bisnis perorangan ataupun kelompok usaha baik dalam skala kecil,menengah maupun besar. Pengelolaan pariwisata ini belum masuk dalam taraf pembangunan perekonomian nagari, sebab selama ini mindset yang ada hanyalah yang itu-itu saja, mencari investor, investor & investor. Perlu tindakan yang lebih membumi untuk memberdayakan masyarakat kita bahwa mereka mampu mengelola potensi wisata di nagari masing-masing.
Seperti yang kita tahu, nagari sebagai sistem masyarakat adat maupun nagari sebagai sistem pemerintahan juga memerlukan sebuah sistem perekonomian nagari yang bisa menyokong keuangan nagari itu sendiri. Dimasa lalu, nagari-nagari di ranah minang memiliki kemandirian mengatur pemerintahannya, adat istiadatnya, perekonomiannya serta keamanan nagarinya. Dengan melakukan pendampingan event Minangkabau Youth Camp, diharapkan nagari-nagari yang memiliki potensi wisata, baik kultur masyarakatnya, seni & budaya serta keindahan alamnya bisa menggarap potensi ini secara maksimal & bertahap.

Wali Nagari Talang Babungo Riswal Arifin & perangkat nagari Zulfitriadi Caniago ketika menerima tim LPM Marapalam, Rabu 15 Februari 2012.

Beberapa hal yang bisa diambil manfaat dari Minangkabau Youth Camp antara lain adalah :
  1. Memberikan pemasukan yang cukup berarti bagi pemerintahan nagari & masyarakat nagari, sesuai hasil rundingan dengan mak Dutamardin Umar kita sepakat setiap peserta dikenai biaya sebesar Rp. 3.500.000, untu 7 hari event MYC yang diadakan, dengan rincian 5 hari di Talang Babungo & 2 hari field ke nagari-nagari di kab. Tanah Datar & nagari-nagari di kab. Pesisir Selatan. Diharapkan 70 % dari pemasukan yang diperoleh bisa terserap ke nagari. Apabila ada 40 peserta yang mengkuti event ini, maka kalkulasinya adalah sebagai berikut :
    Rp. 3.500.000,- x 40 peserta x 70 % = Rp. 98.000.000
    Jumlah ini yang bisa masuk ke kas pemerintahan nagari & pendapatan masyarakat di nagari.
  2. Mengenalkan budaya minang & kehidupan masyarakat di nagari kepada generasi muda kita yang bermukim diperantauan, sehingga mereka yang terbiasa hidup di kota besar dengan segala rutinitasnya mendapatkan pencerahan tentang nagari & adat budaya di ranah minang. Walaupun hanya seminggu, saya kira pengalaman turun ke sawah, belajar dasar-dasar silek minangkabau & alat musik tradisi minang serta kebersamaan mengikuti ibadah shalat berjamaah disertai pengajian di surau/masjid di nagari tidak akan didapatkan di kota-kota besar tempat generasi muda ini bermukim bersama keluarganya. Dengan begitu, kita memberikan sebuah pencerahan kepada generasi muda, sehingga pada saat mereka menjadi pemimpin bangsa ini, masih ada jejak-jejak tradisi minang tertanam dalam pola pikir & dalam cara mengambil sebuah keputusan dimasa mendatang.

    Ajo Fulan Sikumbang bersama pak Zulfitriadi Caniago di Bukik Putuih, Jorong Taratak Dama, Talang Babungo, kec. Hiliran Gumanti, Solok.

  3. Membangun pariwisata yang berbasis nagari, dimana selama ini kita melihat hal ini sangat minim dilakukan oleh penggiat pariwisata di Sumbar ataupun pemda kabupaten/kota & provinsi. Menurut hemat saya, Sumbar lebih cocok dijadikan sebagai tempat perekonomian yang berbasis usaha rakyat, dikelola secara bersama, saling memberikan dukungan satu sama lain sehingga bisa meningkat kesejahteraan masyarakat di nagari-nagari.
  4. Membangun jejaring komunikasi pemuda minang yang tersebar di berbagai kota di Indonesia hingga mancanegara. Sudah barang tentu setelah event ini peserta Minangkabau Youth Camp akan melanjutkan komunikasi satu sama lain, yang didasari pada minat yang sama, basic keilmuan yang sama ataupun kecenderungan membangun jaringan pertemanan dimana kemajuan IT saat ini hampir tidak bisa memisahkan perbedaan ruang & waktu. Tentu saja peserta Minangkabau Youth Camp yang berasal dari nagari yang berbeda akan bisa membangun jejaring sosial minangkabau ke depan, sehingga dimasa yang akan datang kebersamaan urang minangkabau bisa lebih dibangun jejaringnya yang menembus batas nagari.

Panorama Talang Babungo # 1 Kampung Benteng, Jorong Talang Barat, Nagari Talang Babungo Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok

Kalau boleh saya mengungkapkan, saat ini Dana Alokasi Umum Nagari (DAUN) untuk setiap tahunnya hanya berkisar 150 – 250 jt. Memang untuk 19 nagari di kab. Pasaman Barat  saat ini sudah mendapatkan DAUN 1 milyar per nagari, tapi apabila kita menilik 648 nagari yang ada, 19 nagari itu  hanyalah 2,9 % dari jumlah nagari yang ada di Sumbar. Dengan adanya event Minangkabau Youth Camp ini, kita bisa berharap sekitar paling tidak 5 tahun kedepan LPM Marapalam bisa mendampingi 30-an nagari-nagari di Sumbar untuk bisa mengelola event yang sama & menjadi salah satu aset BUMNagari yang bisa menopang pendapatan nagari dimasa yang akan datang, yang dikelola sendiri oleh pemerintahan nagari bersama-sama masyarakat nagari & pengembangan potensi wisata nagari ini tetap sesuai dengan adat istiadat salingka nagari yang berazaskan ABS SBK & berlaku di setiap nagari-nagari yang memiliki potensi wisata nagari, sebab akan tetap terkontrol oleh limbago adat nagari/KAN setempat.

Untuk itulah LPM Marapalam mencoba merintis event ini dengan harapan akan bisa dilakukan pendampingan kepada nagari-nagari yang memiliki potensi mengelar event yang sama. Diharapkan 2-3 tahun mendatang ada sebuah trend baru pariwisata di ranah minang, dimana pada 2 kali dalam setahun di musim libur, pelajar/mahasiswa dari rantau mengikuti Minangkabau Youth Camp yang dilangsungkan di  nagari-nagari dengan keunikan wisatanya masing-masing, sehingga generasi muda kita tetap memiliki dasar budaya yang kuat, membangun jejaring pemuda minangkabau & mengembangkan perekonomian nagari dengan potensi wisata yang ada.

Panorama Talang Babungo # 4 Sawah terrasering yang sedang menguning di Jorong Talang Kiri, Nagari Talang Babungo Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok

Tentunya untuk melakukan hal ini perlu dilakukan sinergi dengan organisasi perantau mana saja, koordinasi dengan pemda kabupaten setempat serta kesabaran mendampingi pemerintahan nagari & masyarakatnya. Untuk itu, apabila ada dari angku, mamak, bundo sarato adi dunsanak yang ingin mampasamokan hal ini, insya Allah indak cukuik jo tapak tangan, jo nyiru kito tampuang.
******

Berikut susunan jadwal Minangkabau Youth Camp selama 7 hari

Hari 1.

  • Berangkat dari Padang  menuju nagari Talang Babungo
  • Tiba di Talang Babungo disambut oleh pemerintahan nagari dengan seremonial silek galombang
  • Koordinasi dengan panitia setempat & mendirikan tenda perkemahan.
  • Shalat Ashar berjamaah
  • Ramah tamah dengan masyarakat nagari di area camp.
  • Mandi sore
  • Shalat maghrib berjamaah & pengajian serta shalat Isya berjamaah.
  • Makan Malam & Atraksi seni tradisi minangkabau yaitu Randai dari anak nagari Talang Babungo di lokasi camp.
  • Istirahat.

Bunga yang unik di Talang Babungo, sayang kami tidak bisa memperoleh nama dari bunga ini setelah mencari tahu dari beberapa penduduk setempat & perangkat nagari.

Hari 2

  • Shalat Subuh berjamah & pengajian shubuh
  • Mandi Pagi
  • Sarapan
  • Wisata Nagari, mulai dari agrowisata, kerajinan tangan & ekowisata di Talang Babungo.
  • Shalat Zhuhur berjamaah
  • Makan Siang
  • Memperlajari seni tradisi minangkabau yaitu seni musik tradisi minang.
  • Shalat Asyar berjamaah
  • Mempelajari silek tradisi minangkabau.
  • Mandi Sore
  • Shalat maghrib berjamaah & pengajian hingga shalat Isya berjamaah.
  • Makan Malam & Atraksi seni tradisi saluang di lokasi camp.
  • Istirahat

Batang Sungai Rambutan di Jorong Tabek nagari Talang Babungo.

Hari 3

  • Shalat Subuh berjamah & pengajian shubuh
  • Mandi Pagi
  • Sarapan
  • Wisata Nagari,  hari balai nagari  Alahan Panjang,  wisata kuliner  & tracking ke Danau Dibawah.
  • Shalat Zhuhur berjamaah
  • Makan Siang
  • Tracking ke Danau Diateh & Agrowisata  serta mengunjungi pemukiman penduduk di nagari Simpang Tanjuang Nan IV.
  • Kembali ke camp
  • Shalat Asyar berjamaah
  • Mempelajari Silek tradisi minangkabau
  • Mandi Sore
  • Shalat maghrib berjamaah & pengajian hingga shalat Isya berjamaah.
  • Makan Malam & tanya jawab seputar adat & sejarah minangkabau.
  • Istirahat

Panorama Talang Babungo # 5. Panorama yang menawan di pagi hari di Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok

Hari 4

  • Shalat Subuh berjamah & pengajian shubuh
  • Mandi Pagi
  • Sarapan
  • Bakti sosial ke masyarakat nagari dengan melakukan penghijauan tanaman produktif & kunjungan ke Nagari Sarik Alahan Tigo.
  • Shalat Zhuhur berjamaah
  • Makan Siang
  • Memperlajari seni tradisi minangkabau yaitu seni musik tradisi minang.
  • Shalat Asyar berjamaah
  • Seni Tradisi Silek Minangkabau.
  • Mandi Sore
  • Shalat maghrib berjamaah & pengajian hingga shalat Isya berjamaah.
  • Makan Malam & Atraksi silek  minang di lokasi camp
  • Istirahat

Ternyata ajo Fulan punya bakat fotografi dengan hasil jepretannya, Jorong Tabek nagari Talang Babungo

Hari 5

  • Shalat Subuh berjamah & pengajian shubuh
  • Mandi Pagi
  • Sarapan
  • Berbaur dengan masyarakat nagari, mengikuti kegiatan masyarakat nagari pada pagi hingga siang hari, mulai dari ke sawah, parak, kerajinan (kelompok dipecah sesuai interest masing-masing – acara bebas)
  • Shalat Zhuhur & Asyar berjamaah (Jama’ & Qashar)
  • Makan Siang
  • Membongkar area perkemahan
  • Kegiatan dari pemda kab. Solok.
  • Pelepasan peserta Minangkabau Youth Camp oleh pemerintahan nagari & masyarakat nagari Talang Babungo
  • Berangkat menuju  Painan
  • chek in Hotel Annordio
  • Mandi Sore
  • Shalat maghrib & Isya berjamaah (Jama’ & Qashar).
  • Makan Malam & acara bebas di kota Painan
  • Istirahat

Bunga Tilambuak Ayam, ukuran bunga ini sebesar bola pingpong hingga bola tenis, nagari Talang Babungo

Hari 6 (field trip)

  • Shalat Shubuh berjamaah
  • Mandi Pagi
  • Sarapan di hotel
  • Kunjungan wisata ke nagari Puluik-Puluik Jembatan Akar & Nagari Bayang ke Air Terjun Bayang Sani.
  • Shalat Zhuhur & Ashar  berjamah (Jama’ & Qashar)
  • Makan Siang
  • Menuju Carocok Beach, Pulau Cubadak & Pulau Marak.
  • Berangkat menuju Batusangkar
  • Shalat Maghrib & Isya berjamaah (Jama’ & Qashar) diperjalanan
  • Makan malam
  • Chek in hotel di Nagari Sumpu danau Singkarak.
  • Istirahat

Agrowisata pertanian cabe dengan panorama pengunungan yang indah di jorong Taratak Dama, nagari Talang Babungo.

Hari 7 (field trip)

  • Shalat Subuh berjamaah
  • Mandi Pagi
  • Sarapan
  • Wisata nagari Balimbiang kec. Rambatan mengujungi situs rumah gadang tuo.
  • Menuju komplek Istano Basa Pagaruyung
  • Shalat Zhuhur & Ashar berjamaah (Jama’ & Qashar)
  • Makan siang
  • Menuju situs Kubu Rajo & Batu Batikam nagari Limo Kaum
  • Menuju situs Balairung Sari di Nagari Tabek
  • Wisata Nagari Tuo Pariangan
  • Kembali ke Padang via Malalak  – Sicincin – Kurai Taji – Pariaman – Sunua – Ulakan – Katapiang – BIM.
wasalam
Armen Zulkarnain
Video dokumentasi LPM Marapalam untuk promo event Minangkabau Youth Camp yang insya Allah
akan diselenggarakan basamo-samo Solok Saiyo Sakato (S3) & Mappas di kanagarian Talang Babungo,
kec. Hiliran Gumanti, kab. Solok akhir Juni 2102 mendatang.
Silek Kurambik, salah satu bungo adat yang juga disebut seni tradisi di minangkabau,
diperagakan oleh kelompok seni Aluang Buniang, Kanagarian Talang Babungo, Hiliran Gumanti kab. Solok.
Nantinya peserta Minangkabau Youth Camp akan mengikuti materi pelatihan silek tuo minangkabau
selama berada 5 hari di kanagarian Talang Babungo.

Ajo Fulan Sikumbang bersama pak Zulfitriadi Caniago di Taratak Dama, Talang Babungo, kec. Hiliran Gumanti, Solo

Batang Gumanti yang membelah nagari Talang Babungo, Sariak Alahan Tigo & Sungai Abu di kec. Hiliran Gumanti kab Solok. Banyak yang tidak bahwa inilah hulu sungai Batang Hari yang membelah kota Jambi hingga ke Kuala tungkal yang merupakan salah sungai penting di Minangkabau pada masa lalu.

Jembatan buai batang Gumanti jorong Pinti Kayu di nagari Talang Babungo

Mengisi cetakan gula saka tabu pada tempurung kelapa yang menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat Talang Babungo. Varietas tebu mulai diusahakan sejak 1984 ketika dilangsungkan pertukaran pemuda Indonesia - Kanada yang dilangsungkan di Talang Babungo masa itu.

Panorama Talang Babungo dari jorong Taratak Jarang.

Sawah terraserring di Talang Barat nagari Talang Babungo.

Padi hampo di Talang Timur yang disebabkan irigasi yang minim, padi ini tidak dipanen oleh masyarakat nagari Talang Babungo.

Panorama malam hari di Talang Babungo.

Pak Muih Tanjung, pengrajin lapiak rotan dari Talang Babungo

Surau di Jorong Taratak Jarang Nagari Talang Babungo dari titik yang direncanakan sebagai lokasi perkemahan. Peserta Minangkabau Youth Camp akan melakukan shalat 5 waktu di surau ini selama 5 hari (18 - 22 Juni 2012). Sesuai agenda kegiatan, setelah shalat shubuh & sesudah shalat maghrib akan dilakukan pengajian agama & adat minangkabau untuk peserta Minangkabau Youth Camp

Lokasi area camp untuk event Minangkabau Youth Camp sering gunakan oleh pramuka di kab Solok karena panoramanya yang indah, dilengkapi 3 pincuran air gungung, 1 gedung ukuran 6 x 12 meter yang bisa digunakan untuk panitia/organizer dengan daya tampung 25 tenda ukuran 4 x 2.5 meter dengan total kapasitas 200 peserta.

Masyarakat Nagari Talang Babungo yang bersama-sama bergotong royong menyabit padi di persawahan. Gotong royong masih merupakan cara yang lazim dipakai oleh masyarakat nagari Talang Babungo, dimana mulai dari proses penanaman, penyiangan, pemupukan, penyabitan hingga merontokan bulir-bulir padi dilakukan bersama-sama anggota kelompok tani. Hanya proses pembajakan yang diupahkan sebab tidak seluruh penduduk nagari saat ini yang memiliki mesin bajak ataupun alat bajak tradisional yang menggunakan tenaga kerbau.

Silek-Kurambik

Silek-Pangian

Pupuik Tanduak Kabau

Saluang


Nagari Sebagai Unit Kesatuan Keamanan & Pertahanan

oleh : Mochtar Naim, 4 September  2011

Dari empat fungsi utama Nagari yang terlembaga di Minangkabau dan Sumatera Barat sekarang ini, termasuk Nagari sebagai unit kesatuan Keamanan dan Pertahanan. Tiga yang lainnya adalah: (1) Nagari sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan di tingkat terendah seperti Desa di Jawa dalam konteks NKRI sekarang ini; (2) Nagari sebagai unit kesatuan Adat dan Sosial-Budaya; dan (3) Nagari sebagai unit kesatuan Sosial-Ekonomi.  

Nagari sebagai unit kesatuan keamanan dan pengamanan serta pertahanan merupakan bahagian yang tidak bisa dipisahkan dan dilepaskan dari Nagari sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan dan dua yang lainnya. Sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan maka Nagari pun mengatur aspek keamanan dan pengamanan serta pertahanan secara otonom sesuai dengan sifat Nagari yang coraknya juga otonom seperti selama ini. Karenanya orang tidak akan menemukan ada perangkat kepolisian apalagi kemiliteran sebagai aparat dari Nagari di Nagari. Orang baru menemukan aparat kepolisian dan kemiliteran di Kecamatan dan Kabupaten dst ke atas. Hanya karena Nagari seperti juga Desa adalah bahagian dari wilayah Resor Kecamatan dan Kabupaten, maka Kepolisian di mana diperlukan akan turun ke Nagari seperti juga ke Desa yang sifatnya ad hoc dan insidental. Bantuan pada Kepolisian dimintakan kalau sudah tidak bisa ditangani langsung sendiri. Secara internal di Nagari urusan keamanan dan pertahanan dilakukan sendiri oleh Nagari sebagai bahagian dari sistem berNagari. Prinsip yang dipakai adalah: “Padi dikebat dengan daunnya.”

Dalam keadaan rutin sehari-hari, karenanya, orang tidak akan melihat ada tanda-tanda bahwa keamanan dan juga pertahanan di Nagari diatur secara khusus tersendiri – kecuali bahwa di samping kantor Wali Nagari atau Jorong biasa ada “pondok rundo” tempat para pemuda atau orang kampung pria lainnya suka berkumpul sambil bersenda-gurau seperti di lepau, sembari menjaga keamanan kampung sampai larut malam. Dan di dalamnya tidak ada apa-apa kecuali tempat untuk bersantai dan minum-minum, dan, sekali-sekali, ‘bagadang,’ atau tidur di sana sampai besok pagi. Tapi coba kalau terjadi ada insiden kegaduhan, kemalingan, kebakaran rumah, atau huru-hara apapun, para pemuda dan orang lelaki sekampung lainnya akan bergeduru secara spontan turun tangan menyekap dan menyelesaikan persoalannya secara kolektif bersama-sama.  Biasanya di setiap pondok rundo, yang kadang juga di kantor Wali Nagari, ada kentongan yang dibunyikan setiap kali ada musibah, misalnya ada kebakaran, kemalingan, waktu bergotong royong, dsb. Tapi semua itu kelihatannya sudah hilang ditelan masa, terutama sejak sistem keNagarian telah manjadi bahagian yang integral dari sistem pemerintahan yang terpusat sampai ke atas.

Dulu, ketika Nagari masih berdiri otonom, walau tidak kelihatan seperti ada apa-apa, pengaturan keamanan dan pertahanan berjalan secara relatif efektif. Sebagai contoh soal, kecil saja, bagaimana moralitas bermasyarakat dijaga justeru dengan melekatkan sanksi hukum yang berat, bahkan teramat berat, karena yang dituju adalah ‘efek jera’nya. Misalnya, terjadi perselingkuhan, atau hubungan muda-mudi yang sumbang-mencanda, lalu ketahuan. Keduanya diarak keliling kampung dengan dicibir dan dipermalukan untuk kemudian diceburkan ke tebat beramai-ramai untuk kemudian diusir dari kampung.

Bagaimanapun, masalah pengaturan keamanan dan pertahanan ini juga terkait kepada bagaimana bentuk hirarki Nagari ke tingkat yang lebih tinggi ke atas, yakni ke Kecamatan, Kabupaten, Provinsi dan ke Pusat. Dalam hal ini kita segera akan melihat beda yang relatif besar antara dahulu di zaman pra-kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan. Di zaman pra-kemerdekaan, yakni di zaman kolonial dahulu, pemerintah kolonial sadar betul bahwa dengan keterbatasan personil maupun aparat dan fasilitas yang tersedia, dibanding dengan luasnya wilayah daerah dan negara secara keseluruhan yang terdiri dari belasan ribu pulau-pulau, pemerintah kolonial sengaja menyerahkan banyak hal di tingkat Desa dan Nagari untuk diurus dan diatur oleh rakyat sendiri dengan perangkat adat yang dari semula sudah tertata menurut tatanan adat mereka masing-masing. Sendirinya, di bidang keamanan dan pertahanan ini praktis semua hal diserahkan kepada rakyat untuk mengatur dan mengelolakannya. Pemerintah baru turun tangan kalau desa ataupun nagari bersangkutan tidak mampu lagi menanggulangi dan menanganinya sendiri.

Di zaman pra-kemerdekaan, Nagari, karenanya, praktis memiliki otonomi yang luas sekali. Nagari adalah bagaikan republik kecil-kecil (petits republiques) yang mengatur semua urusan tidak hanya otonom tetapi bahkan independen. Semua ini, bagaimanapun, terbantu karena mekanisme adat yang tidak hanya sekadar filosofi hidup tetapi juga tertuang ke dalam perangkat aparat yang diperlukan, termasuk di bidang keamanan dan pertahanan ini. Tidak kurangya, melalui ketentuan adat, semua juga tertuang ke dalam norma-norma hukum kendati tidak tertulis sekalipun. Kita masih diingatkan dengan adanya bermacam undang-undang, termasuk undang-undang tentang dago-dagi, rebut-rampas, samun sakar, dsb, yang istilahnya saja sudah kedengaran aneh di telinga kita sekarang, di samping undang-undang kepidanaan maupun keperdataan asli lainnya yang diwariskan dari zaman beradat sundut-bersundut dahulu.

Namun dengan zaman kemerdekaan sekarang ini, karena semua hal mau diatur secara totalitas-menyeluruh, secara nasional, bahkan secara seragam dan hirarkis-vertikal dari pusat sampai ke daerah, yang segera lapuk dan tak terpakai lagi adalah tatanan adat di bidang pidana dan perdata yang berlaku di tingkat Nagari itu. Ekstrimnya seperti yang kita lihat sekarang, tidak ada yang jalan kalau tidak diatur oleh pemerintahan Nagari secara langsung. Dan Wali Nagari sendiripun kendati dibantu oleh aparat pemerintahan Nagari, praktis juga berjalan sendiri yang lengohannya ke atas ke Kecamatan dan Kabupaten, dan tidak ke samping kepada rakyatnya sendiri lagi. Kendati di Nagari juga ada DPR Nagari, yang sekarang namanya Bamus –Badan Musyawarah— Nagari, namun praktis tidak berjalan secara efektif karena tidak terbenahi secara kelembagaan dan finansial yang memadai. Bamus bermusyawarah lebih secara insidental kapan ada hal-hal mendesak yang perlu ditangani di samping yang sifatnya lebih seremonial pada upacara-upacara tertentu di tingkat Nagari.

Demikian juga dengan aparat ataupun mekanisme yang berkaitan dengan masalah keamanan dan pertahanan ini. Dahulu di setiap Nagari ada yang namanya Dubalang Nagari, ada Opas Nagari, ada bagian Keamanan Nagari, dsb, yang membantu Wali Nagari menangani masalah-masalah keamanan dan bahkan pertahanan Nagari. Sekarang semua itu kelihatannya telah terlipat dalam sejarah Nagari. Nagari sebaliknya lebih mengandalkan kekuatannya kepada Kecamatan dan Kabupaten di mana juga Nagari lebih dilihat sebagai bahagian yang integral ataupun ujung tombak dari pemerintahan Kecamatan dan Kabupaten daripada berdiri sendiri secara otonom seperti dahulu di zaman pra-kolonial ataupun kolonial.

Dahulu di zaman kolonial dan pra-kolonial, karena semua harus diatur dan diurus sendiri, sisi keamanan dan petahanan Nagari ini termasuk masalah yang ditangani secara serius dan bersungguh-sungguh justru oleh Nagari itu sendiri atau bersama dengan nagari-nagari di sekitarnya yang mempunyai kesamaan adat dan saling terkait secara adat dengan hubungan pertalian darah dan semenda-menyemenda, kawin-mawin, dsb. Pengidentifikasian Nagari Kecil ke luar sering justeru dengan memakaikan nama Nagari Gadangnya, bukan Nagari Kecil itu sendiri. Sebagai contoh sederhananya, Banuhampu, Sungai Pua, Ampek Angkek, Tilatang-Kamang, Ampek Koto, di sekitar Bukittinggi saja, misalnya, semua itu adalah Nagari Gadang yang merupakan kumpulan dari beberapa Nagari kecil yang memiliki kesamaan adat dan hubungan turun-temurun. Nagari-nagari Ketek inilah yang dijadikan sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan terendah di Republik ini, sementara Nagari Gadang sekarang cenderung menjadi unit kesatuan administratif Kecamatan.

Nagari, dahulu, adalah sebuah identitas yang mau tak mau harus menjaga keamanan dan pertahanan Nagari sendiri karena alam di luarnya itu lebih dilihat sebagai ancaman daripada sekutu. Dahulu di atas Nagari hanya ada Luhak sebagai kesatuan totemis, yang dilambangkan kepada binatang totemik tertentu, seperti harimau di Agam, kucing di Tanah Datar dan kambing di Limapuluh Kota. Di atasnya lagi langsung ada Kerajaan Minangkabau yang sifatnya simbolis sebagai kesatuan kerajaan, yang otoritasnya lebih banyak diperlihatkan ke luar ke daerah rantau dan hubungan diplomatik dengan dunia luar, daripada ke kesatuan Nagari yang punya otonomi dalam mengatur diri sendiri.

Masalah keamanan dan pertahanan di tingkat Nagari ini justeru menjadi masalah sekarang ketika semua urusan ditangani oleh pemerintah, dari Nagari ke Kecamatan, Kabupaten, Provinsi, dst ke Pusat. Yang “anak nagari” alias penduduk warga yang menetap di kampung dan di Nagari, praktis tidak dibebani apa-apa kecuali membayar pajak ini-itu dan patuh pada pemerintah. Tidak ada kewajiban untuk menjaga keamanan kampung dengan “barundo” atau beronda malam, seperti dulu biasa terjadi ketika Nagari masih memiliki wewenang otonomi yang penuh.

Kecuali itu, Nagari kelihatannya sekarang lebih rentan keamanan dan pertahanan, baik karena mekanisme keamanan dan pengamanan sertapun ketahanan tidak lagi berfungsi efektif karena semua-semua telah diborong habis oleh pemerintah dari bawah sampai ke atas, yang karenanya ketiadaan keterlibatan dan rasa tanggung-jawab rakyat sendiri dalam turut menjaga aspek keamanan dan pertahanan di Nagari sendiri, maupun faktor-faktor luar yang masuk yang makin susah dikontrol dan dikendalikan. Faktor-faktor luar ini bukan hanya bersifat fisikal-material tapi juga moral dan spiritual.

Sebuah pemikiran paradigmatik baru yang lebih komprehensif, integral dan berorientasi ke depan, dengan mengingat perubahan-perubahan mau tak mau terjadi dan harus terjadi, agaknya diperlukan, terutama dalam rangka upaya bagaimana melibatkan rakyat dan warganegara sendiri dalam ikut menjaga dan memelihara sisi keamanan dan pertahanan dari kehidupan bernagari itu. ***

tulisan bisa didownload pada link dibawah ini :

http://www.box.com/s/x9s1zx9eis7e936aq2e2