Kondisi Jalan Nagari di 5 Nagari Kec. IV Koto Aue Malintang, Kab. Padang Pariaman

Dalam budaya minangkabau, sering disebutkan bahwa sarana prasarana jalan merupakan faktor penting untuk membangun masyarakat nagari. Hal ini dapat dilihat dalam penggunaan kalimat pada tradisi lisan minangkabau seperti :

Adaik tanyo iyo bajawek, adaik gayuang iyo basambuik Jalan nan pasa kito turuik, labuah nan  golong kito tampuah

Sejak dahulu, dalam khazanah budaya minangkabau, mengenai sarana perhubungan sangat diperlukan untuk mobilitas masyarakat nagari. Hal ini dapat kita lihat pada nagari-nagari di Luhak Nan Tigo, dimana sarana perhubungan ini diusahakan untuk layak digunakan oleh masyarakat, sehingga roda perekonomian di nagari tidak mengalami kendala berarti dengan mudahkan mobilisasi untuk memindahkan hasil bumi yang merupakan sektor riil penghasilan masyarakat.

Video dokumentasi LPM Marapalam ketika melakukan pendampingan website nagari di cluster IV Koto Aue Malintang. Kondisi jalan nagari di Korong Koto Panjang, Nagari III Koto Aue Malintang Selatan, kec. IV Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman. Video ini mewakili kondisi jalan nagari antar korong yang ada di 50 Korong pada 5 nagari kec. IV Koto Aue Malintang. Diperlukan sinergi bersama antara perantau Ikako Amal dengan 5 pemerintahan nagari untuk memperbaiki kondisi jalan nagari yang ada saat ini. Semoga perantau Ikako Amal bisa mampasamoan hal iko dimaso nan akan datang.

Selama melakukan pendampingan website nagari di cluster IV Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman, kami sempat mewawancarai beberapa penduduk nagari yang berusia lanjut, dimana pada era 70-80an sarana perhubungan di wilayah ini dalam kondisi yang cukup memprihatinkan, dimana jalan nagari pada masa itu belum dilakukan pengaspalan – hanya jalan tanah dengan pengerasan dengan kerikil – serta belum terdapatnya jembatan di Batang Tiku sehingga banyak masyarakat di III Koto Aue Malintang pada masa ini sering terlambat datang ke sekolah setingkat SLTP yang berada di Sungai Garinggiang.

Alhamdulillah, saat ini kondisi jalan utama antar nagari, mulai dari Sigata hingga Kapalo Gasan, lalu ke Simpang Ampek Aue Malintang dimana terdapat persimpangan menuju Balai Baiak Malai III Koto hingga ke Gasan Gadang sudah diaspal dengan baik oleh pemkab Padang Pariaman. Begitu pula kondisi yang ada saat ini dari Simpang Ampek Aue Malintang menuju Batu Basa, hingga ke Padang Maduang & Sungai Pingai serta menuju Kampuang Pinang hingga Padang Lariang tembus ke Lubuak Basuang, ibukota kab. Agam. Jikalau ada jalan antar nagari yang kondisinya belum layak pakai hanyalah dari Batu Basa menuju Durian Jantung, dimana setelah Koto Kaciak memasuki wilayah Nagari III Koto Aue Malintang Timur saat ini kondisi aspal yang ada perlu dilakukan pengaspalan ulang oleh pemkab Padang Pariaman. Jalan ini yang bisa menghubungkan Durian Jantung & Padang Polongan ke Padang Pariang di III Koto Aue Malintang Utara.

Ulasan ini kami publikasikan sesungguhnya bukan membahas jalan antar nagari yang ada di kec. IV Koto Aue Malintang, melainkan kondisi jalan penghubung antar korong yang ada di 5 nagari. Saat ini kondisi jalan nagari yang ada cukup memprihatinkan, dimana 70 % jalan nagari yang ada tidak layak pakai. Hal ini apabila mengkaji luas wilayah di kecamatan termuda Kab. Padang Pariaman bisa dimaklumi bahwa pembangunan jalan nagari akan terus dilakukan, baik melalui proyek pengerjaan jalan nagari oleh dinas PU kabupaten, maupun melalui program PNPM dimana masyarakat nagari bisa memusyawarahkan hal ini agar diperuntukan merehabilitasi jalan nagari.

Namun dunsanak saranah minang dimana saja berada, khususnya perantau Ikako Amal dipenjuru nusantara, apabila kita mengkaji rentang jumlah km jalan nagari yang ada, hal ini tidak bisa diharapkan untuk menunggu pembangunan dari Pemkab Padang Pariaman saja. Sebab alokasi dana yang terbatas & kondisi yang sama juga terjadi di banyak nagari-nagari di Padang Pariaman, membutuhkan perhatian bersama oleh perantau untuk sato sakaki membantu pembangunan jalan nagari.

Mengapa hal ini kami paparkan demikian? Semangat gotong royong masyarakat nagari yang saat ini sedang mambuncah melalui program kabupaten, memerlukan uluran tangan dari perantau untuk membantu pengadaan material pengerasan jalan yang menghubungkan antar korong di 5 nagari kec. IV Koto Aue Malintang. Dimana, masyarakat nagari saat ini secara rutin sepekan sekali melakukan gotong royong bersama memperbaiki jalan nagari, membutuhkan material semen sebagai bahan baku utama untuk membangun rabat beton jalan nagari. Hal ini sangat diperlukan, sebab kondisi jalan nagari yang sebagian besar adalah jalan tanah, apabila tidak dilakukan pengerasan dengan cor semen akan kembali pada bentuk semula sebelum dilakukan gotong rotong.

Menurut hemat kami, paling tidak dalam sebulan sekali, perantau-perantau Ikako Amal bisa mengirimkan bahan baku semen paling tidak 1-2 zak perorang, dimana hal ini akan sangat membantu proses pengerasan jalan yang dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat nagari. Apabila dimasing-masing korong bisa melakukan pengerasan jalan dengan metoda rabat beton dalam sebulan sekali, proses pembangunan jalan nagari progresnya akan semakin cepat & dengan cara gotong royong inilah nantinya yang akan menghubungkan ikatan lahir & bathin antara masyarakat nagari dengan perantau. Lagi pula, kalau bukan kita sebagai anak nagari, siapa lagi yang bisa diharapkan untuk membangun kampung halaman sendiri?

Dari 5 nagari yang ada di kec. IV Koto Aue Malintang, saat ini hanya nagari III Koto Aue Malintang Timur saja yang memiliki mesin molen yang sangat dibutuhkan untuk proses pengadukan material semen, pasir & kerikil. Kedepan sesuai harapan kami, semoga perantau-perantau dari 4 nagari lainnya bisa mengusahakan akan pemerintahan nagari memiliki mesin yang serupa, sehingga masyarakat yang ada di 50 Korong yang ada di 5 nagari kec. IV Koto Aue Malintang bisa secara bersama-sama memperbaiki kualitas jalan nagari.

Demikian publikasi tulisan tentang kondisi jalan nagari di kec. IV Koto Aue Malintang ini kami publikasikan, semoga kedepan perantau bersama-sama pemerintahan nagari bisa melakukan sinergi untuk meningkatkan mutu jalan nagari, amin ya Rabbal alamin.

wasalam
LPM Marapalam

Kondisi jalan nagari di Sarik Laweh, Korong Batu Caluang Nagari IIII Koto Aue Malintang Selatan, Padang Pariaman. Pengecoran jalan dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dimana pada trek pendakian dilakukan pengecoran dengan semen sehingga pada kondisi hujan masih bisa dilalui dengan mudah oleh kendaraan roda dua.

Jalan nagari di Batu Caluang yang menuju area persawahan di sepanjang tepian batang Tiku. Saat ini selain roda dua, jalan nagari ini juga dilalui oleh gerobak yang menggunakan tenaga kerbau untuk mengangkut hasil bumi dari area pertanian ke perkampungan penduduk.

Tampak pada foto jalan nagari di Korong Batu Caluang, Nagari III Koto Aue Malintang Selatan. Jalan ini dilakukan pemeliharaan dengan cara bergotong royong secara bersama-sama oleh masyarakat nagari. Karena kemampuan finasial masyarakat nagari yang masih terbatas, saat ini belum dilakukan pengerasan dengan rabat beton. Apabila hujan turun, jalan nagari ini disarankan tidak digunakan sementara waktu.

Jalan Nagari di Sarik Laweh, Korong Batu Caluang, Nagari III Koto Aue Malintang.

Jalan nagari di Durian Basi, Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang Selatan, kab. Padang Pariaman. Kondisi jalan nagari yang sudah dilakukan pengerasan jalan dapat dilanjutkan dengan pengecoran dengan sistem rabat beton.

Kondisi yang sama pada jalan nagari di Simpang Ampek Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang, Padang Pariaman. Jalan nagari ini memiliki panjang 6 km dengan kondisi sebahagian sudah dilakukan pengecoran dengan sistem rabat beton (terutama pada trek pendakian). Untuk trek yang lebih datar kondisinya bisa dilihat pada foto terlampir.

Salah satu trek pendakian di jalan nagari korong Koto Panjang, Nagari III Koto Aue Malintang, kab. Padang Pariaman. Pengecoran ini dilakukan agar jalan nagari ini tetap bisa digunakan apabila hujan turun.

Kondisi jalan nagari antara Durian Basi dengan Pulai Tinggi di Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang. Pada umumnya di 5 nagari pada kec. IV Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman jalan nagari yang ada dalam kondisi yang sama. Diperlukan peran serta masyarakat nagari untuk terus melakukan gotong royong yang dalam 4 bualn terakhir ini sedang giat-giatnya & sangat diharapkan peran perantau Ikako Amal untuk membantu pengadaan material semen untuk pengerasan jalan dengan sistem rabat beton.

Siswa SD Durian Basi, Korong Koto Panjang III Koto Aue Malintang Selatan, Padang Pariaman. Inilah generasi penerus masyarakat minang, dimana kita sebagai generasi terdahulu wajib memikirkan untuk mempersiapkan generasi muda untuk melanjutkan tanggung jawab mengatur tatanan masyarakat minangkabau agar semakin teguh memegang adagium Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Anak nagari III Koto Aue Malintang Selatan di kampung Pulai Tinggi Korong Koto Panjang yang membantu urang tuanya sepulang sekolah untuk mengupas buah pinang yang merupakan salah satu komoditi andalan masyarakat di Kec. IV Koto Aue Malintang, Padang Pariaman. Untuk mengirimkan hasil bumi ini dibutuhkan kondisi perhubungan yaitu jalan nagari yang lebih layak dari yang sudah ada saat ini.

Biji kakao yang sedang dikeringkan, merupakan salah satu komoditi andalan di kec. IV Koto Aue Malintang, yang juga merupakan komiditi andalan di kab Padang Pariaman. Seperti halnya komoditi lain, memerlukan kondisi sarana perhubungan jalan nagari yang lancar untuk memudahkan akses masyarakat nagari mendistribusikan hasil bumi ke pasar pengumpul.

Tanaman Kakao di kampung Pulai Tinggi Korong Koto Panjang, Nagari III Koto Aue Malintang, Kab. Padang Pariaman. Tampak pada foto sistem penanaman kakao dilakukan dengan metoda tumpang sari dengan tanaman pinang.

Kampung Pulai Tinggi merupakan salah satu perkampungan di titik tertinggi pada kec. IV Koto Aue Malintang, selain di kampuang Sianok, Korong Kampuang Tajuang, Kampuang Padang Asam Korong Kampuang Tangah, Lancang Mudiak, Korong Lancang & Korong Padang Polongan. Di wilayah hulu ini menghasilkan komoditi Kulit Manis (casiavera sp) yang merupakan komoditi masyarakat nagari di dataran tinggi ranah minang.

Wali Korong Koto Panjang, Syahrial Koto sedang menunjukan jalan nagari yang perlu dilakukan rabat beton mengingat trek jalan nagari ini merupakan jalan pendakian & hampir setiap hari dalam kondisi lembab/basah.

Masyarakat nagari di Pulai Tinggi Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman sedang mengangkut hasil pertanian komoditi jagung. Tampak pada foto jalan nagari yang telah dilakukan rabab beton dengan lebar jalan 2,5 meter yang merupakan hasil program PNPM 2010.

Proses perontokan pipil jagung di Durian Basi, Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang Selatan kab. Padang Pariaman. Di kec. IV Koto Aue Malintang kab Padang Pariaman, selain pertanian padi & kelapa, terdapat banyak hasil komoditi pertanian yang menjadi tumpuan masyarakat nagari, seperti cengkeh, pinang, kakao, jagung, kacang tanah, & kulit manis.

Proses perontokan pipil jagung di Durian Basi, Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang Selatan kab. Padang Pariaman. Seperti halnya komoditi yang lain, sangat memerlukan prasarana jalan penghubung antar korong yang layak agar masyarakat nagari bisa dengan mudah mendistribusikan hasil buminya ke pasar pengumpul.

Jalan nagari yang sudah dilakukan pengerasan dengan sistem rabat beton di Pulai Tinggi, Korong Koto Panjang Nagari III Koto Aue Malintang Selatan, Kab. Padang Pariaman. Tampak pada foto anak nagari yang pulang dari ladang kelapa mengumpulkan daun kelapa kering untuk diambil lidinya yang nantinya akan dijadikan sapu.

Sisi lain jalan nagari antara Durian Basi - Simpang Ampek di Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang, Kab. Padang Pariaman.

Sisi lain jalan nagari antara Durian Basi - Simpang Ampek di Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang, Kab. Padang Pariaman.

Mesin molen milik Nagari III Koto Aue Malintang Timur yang saat ini digunakan dalam proses pembangunan Masjid Nagari yang rusak ketika gempa 30 September 2009 yang lalu.

Jalan nagari di Korong Lancang, III Koto Aue Malintang Selatan, kab. Padang Pariaman setelah dilakukan gotong royong bersama. Apabila tidak dilakukan pengerasan jalan dengan sistem rabat beton, dalam waktu 6-12 bulan mendatang, kondisi jalan nagari ini akan kembali seperti semula ketika belum dilakukan gotong royong. Semoga dengan publikasi foto & video ini bisa menjalinkan sinergi antara perantau Ikako Amal dengan pemerintahan nagari sehingga perbaikan mutu jalan nagari di kec. IV Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman bisa dilakukan dimasa mendatang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s