Kondisi Jalan Nagari di 5 Nagari Kec. IV Koto Aue Malintang, Kab. Padang Pariaman

Dalam budaya minangkabau, sering disebutkan bahwa sarana prasarana jalan merupakan faktor penting untuk membangun masyarakat nagari. Hal ini dapat dilihat dalam penggunaan kalimat pada tradisi lisan minangkabau seperti :

Adaik tanyo iyo bajawek, adaik gayuang iyo basambuik Jalan nan pasa kito turuik, labuah nan  golong kito tampuah

Sejak dahulu, dalam khazanah budaya minangkabau, mengenai sarana perhubungan sangat diperlukan untuk mobilitas masyarakat nagari. Hal ini dapat kita lihat pada nagari-nagari di Luhak Nan Tigo, dimana sarana perhubungan ini diusahakan untuk layak digunakan oleh masyarakat, sehingga roda perekonomian di nagari tidak mengalami kendala berarti dengan mudahkan mobilisasi untuk memindahkan hasil bumi yang merupakan sektor riil penghasilan masyarakat.

Video dokumentasi LPM Marapalam ketika melakukan pendampingan website nagari di cluster IV Koto Aue Malintang. Kondisi jalan nagari di Korong Koto Panjang, Nagari III Koto Aue Malintang Selatan, kec. IV Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman. Video ini mewakili kondisi jalan nagari antar korong yang ada di 50 Korong pada 5 nagari kec. IV Koto Aue Malintang. Diperlukan sinergi bersama antara perantau Ikako Amal dengan 5 pemerintahan nagari untuk memperbaiki kondisi jalan nagari yang ada saat ini. Semoga perantau Ikako Amal bisa mampasamoan hal iko dimaso nan akan datang.

Selama melakukan pendampingan website nagari di cluster IV Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman, kami sempat mewawancarai beberapa penduduk nagari yang berusia lanjut, dimana pada era 70-80an sarana perhubungan di wilayah ini dalam kondisi yang cukup memprihatinkan, dimana jalan nagari pada masa itu belum dilakukan pengaspalan – hanya jalan tanah dengan pengerasan dengan kerikil – serta belum terdapatnya jembatan di Batang Tiku sehingga banyak masyarakat di III Koto Aue Malintang pada masa ini sering terlambat datang ke sekolah setingkat SLTP yang berada di Sungai Garinggiang.

Alhamdulillah, saat ini kondisi jalan utama antar nagari, mulai dari Sigata hingga Kapalo Gasan, lalu ke Simpang Ampek Aue Malintang dimana terdapat persimpangan menuju Balai Baiak Malai III Koto hingga ke Gasan Gadang sudah diaspal dengan baik oleh pemkab Padang Pariaman. Begitu pula kondisi yang ada saat ini dari Simpang Ampek Aue Malintang menuju Batu Basa, hingga ke Padang Maduang & Sungai Pingai serta menuju Kampuang Pinang hingga Padang Lariang tembus ke Lubuak Basuang, ibukota kab. Agam. Jikalau ada jalan antar nagari yang kondisinya belum layak pakai hanyalah dari Batu Basa menuju Durian Jantung, dimana setelah Koto Kaciak memasuki wilayah Nagari III Koto Aue Malintang Timur saat ini kondisi aspal yang ada perlu dilakukan pengaspalan ulang oleh pemkab Padang Pariaman. Jalan ini yang bisa menghubungkan Durian Jantung & Padang Polongan ke Padang Pariang di III Koto Aue Malintang Utara.

Ulasan ini kami publikasikan sesungguhnya bukan membahas jalan antar nagari yang ada di kec. IV Koto Aue Malintang, melainkan kondisi jalan penghubung antar korong yang ada di 5 nagari. Saat ini kondisi jalan nagari yang ada cukup memprihatinkan, dimana 70 % jalan nagari yang ada tidak layak pakai. Hal ini apabila mengkaji luas wilayah di kecamatan termuda Kab. Padang Pariaman bisa dimaklumi bahwa pembangunan jalan nagari akan terus dilakukan, baik melalui proyek pengerjaan jalan nagari oleh dinas PU kabupaten, maupun melalui program PNPM dimana masyarakat nagari bisa memusyawarahkan hal ini agar diperuntukan merehabilitasi jalan nagari.

Namun dunsanak saranah minang dimana saja berada, khususnya perantau Ikako Amal dipenjuru nusantara, apabila kita mengkaji rentang jumlah km jalan nagari yang ada, hal ini tidak bisa diharapkan untuk menunggu pembangunan dari Pemkab Padang Pariaman saja. Sebab alokasi dana yang terbatas & kondisi yang sama juga terjadi di banyak nagari-nagari di Padang Pariaman, membutuhkan perhatian bersama oleh perantau untuk sato sakaki membantu pembangunan jalan nagari.

Mengapa hal ini kami paparkan demikian? Semangat gotong royong masyarakat nagari yang saat ini sedang mambuncah melalui program kabupaten, memerlukan uluran tangan dari perantau untuk membantu pengadaan material pengerasan jalan yang menghubungkan antar korong di 5 nagari kec. IV Koto Aue Malintang. Dimana, masyarakat nagari saat ini secara rutin sepekan sekali melakukan gotong royong bersama memperbaiki jalan nagari, membutuhkan material semen sebagai bahan baku utama untuk membangun rabat beton jalan nagari. Hal ini sangat diperlukan, sebab kondisi jalan nagari yang sebagian besar adalah jalan tanah, apabila tidak dilakukan pengerasan dengan cor semen akan kembali pada bentuk semula sebelum dilakukan gotong rotong.

Menurut hemat kami, paling tidak dalam sebulan sekali, perantau-perantau Ikako Amal bisa mengirimkan bahan baku semen paling tidak 1-2 zak perorang, dimana hal ini akan sangat membantu proses pengerasan jalan yang dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat nagari. Apabila dimasing-masing korong bisa melakukan pengerasan jalan dengan metoda rabat beton dalam sebulan sekali, proses pembangunan jalan nagari progresnya akan semakin cepat & dengan cara gotong royong inilah nantinya yang akan menghubungkan ikatan lahir & bathin antara masyarakat nagari dengan perantau. Lagi pula, kalau bukan kita sebagai anak nagari, siapa lagi yang bisa diharapkan untuk membangun kampung halaman sendiri?

Dari 5 nagari yang ada di kec. IV Koto Aue Malintang, saat ini hanya nagari III Koto Aue Malintang Timur saja yang memiliki mesin molen yang sangat dibutuhkan untuk proses pengadukan material semen, pasir & kerikil. Kedepan sesuai harapan kami, semoga perantau-perantau dari 4 nagari lainnya bisa mengusahakan akan pemerintahan nagari memiliki mesin yang serupa, sehingga masyarakat yang ada di 50 Korong yang ada di 5 nagari kec. IV Koto Aue Malintang bisa secara bersama-sama memperbaiki kualitas jalan nagari.

Demikian publikasi tulisan tentang kondisi jalan nagari di kec. IV Koto Aue Malintang ini kami publikasikan, semoga kedepan perantau bersama-sama pemerintahan nagari bisa melakukan sinergi untuk meningkatkan mutu jalan nagari, amin ya Rabbal alamin.

wasalam
LPM Marapalam

Kondisi jalan nagari di Sarik Laweh, Korong Batu Caluang Nagari IIII Koto Aue Malintang Selatan, Padang Pariaman. Pengecoran jalan dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dimana pada trek pendakian dilakukan pengecoran dengan semen sehingga pada kondisi hujan masih bisa dilalui dengan mudah oleh kendaraan roda dua.

Jalan nagari di Batu Caluang yang menuju area persawahan di sepanjang tepian batang Tiku. Saat ini selain roda dua, jalan nagari ini juga dilalui oleh gerobak yang menggunakan tenaga kerbau untuk mengangkut hasil bumi dari area pertanian ke perkampungan penduduk.

Tampak pada foto jalan nagari di Korong Batu Caluang, Nagari III Koto Aue Malintang Selatan. Jalan ini dilakukan pemeliharaan dengan cara bergotong royong secara bersama-sama oleh masyarakat nagari. Karena kemampuan finasial masyarakat nagari yang masih terbatas, saat ini belum dilakukan pengerasan dengan rabat beton. Apabila hujan turun, jalan nagari ini disarankan tidak digunakan sementara waktu.

Jalan Nagari di Sarik Laweh, Korong Batu Caluang, Nagari III Koto Aue Malintang.

Jalan nagari di Durian Basi, Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang Selatan, kab. Padang Pariaman. Kondisi jalan nagari yang sudah dilakukan pengerasan jalan dapat dilanjutkan dengan pengecoran dengan sistem rabat beton.

Kondisi yang sama pada jalan nagari di Simpang Ampek Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang, Padang Pariaman. Jalan nagari ini memiliki panjang 6 km dengan kondisi sebahagian sudah dilakukan pengecoran dengan sistem rabat beton (terutama pada trek pendakian). Untuk trek yang lebih datar kondisinya bisa dilihat pada foto terlampir.

Salah satu trek pendakian di jalan nagari korong Koto Panjang, Nagari III Koto Aue Malintang, kab. Padang Pariaman. Pengecoran ini dilakukan agar jalan nagari ini tetap bisa digunakan apabila hujan turun.

Kondisi jalan nagari antara Durian Basi dengan Pulai Tinggi di Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang. Pada umumnya di 5 nagari pada kec. IV Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman jalan nagari yang ada dalam kondisi yang sama. Diperlukan peran serta masyarakat nagari untuk terus melakukan gotong royong yang dalam 4 bualn terakhir ini sedang giat-giatnya & sangat diharapkan peran perantau Ikako Amal untuk membantu pengadaan material semen untuk pengerasan jalan dengan sistem rabat beton.

Siswa SD Durian Basi, Korong Koto Panjang III Koto Aue Malintang Selatan, Padang Pariaman. Inilah generasi penerus masyarakat minang, dimana kita sebagai generasi terdahulu wajib memikirkan untuk mempersiapkan generasi muda untuk melanjutkan tanggung jawab mengatur tatanan masyarakat minangkabau agar semakin teguh memegang adagium Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Anak nagari III Koto Aue Malintang Selatan di kampung Pulai Tinggi Korong Koto Panjang yang membantu urang tuanya sepulang sekolah untuk mengupas buah pinang yang merupakan salah satu komoditi andalan masyarakat di Kec. IV Koto Aue Malintang, Padang Pariaman. Untuk mengirimkan hasil bumi ini dibutuhkan kondisi perhubungan yaitu jalan nagari yang lebih layak dari yang sudah ada saat ini.

Biji kakao yang sedang dikeringkan, merupakan salah satu komoditi andalan di kec. IV Koto Aue Malintang, yang juga merupakan komiditi andalan di kab Padang Pariaman. Seperti halnya komoditi lain, memerlukan kondisi sarana perhubungan jalan nagari yang lancar untuk memudahkan akses masyarakat nagari mendistribusikan hasil bumi ke pasar pengumpul.

Tanaman Kakao di kampung Pulai Tinggi Korong Koto Panjang, Nagari III Koto Aue Malintang, Kab. Padang Pariaman. Tampak pada foto sistem penanaman kakao dilakukan dengan metoda tumpang sari dengan tanaman pinang.

Kampung Pulai Tinggi merupakan salah satu perkampungan di titik tertinggi pada kec. IV Koto Aue Malintang, selain di kampuang Sianok, Korong Kampuang Tajuang, Kampuang Padang Asam Korong Kampuang Tangah, Lancang Mudiak, Korong Lancang & Korong Padang Polongan. Di wilayah hulu ini menghasilkan komoditi Kulit Manis (casiavera sp) yang merupakan komoditi masyarakat nagari di dataran tinggi ranah minang.

Wali Korong Koto Panjang, Syahrial Koto sedang menunjukan jalan nagari yang perlu dilakukan rabat beton mengingat trek jalan nagari ini merupakan jalan pendakian & hampir setiap hari dalam kondisi lembab/basah.

Masyarakat nagari di Pulai Tinggi Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman sedang mengangkut hasil pertanian komoditi jagung. Tampak pada foto jalan nagari yang telah dilakukan rabab beton dengan lebar jalan 2,5 meter yang merupakan hasil program PNPM 2010.

Proses perontokan pipil jagung di Durian Basi, Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang Selatan kab. Padang Pariaman. Di kec. IV Koto Aue Malintang kab Padang Pariaman, selain pertanian padi & kelapa, terdapat banyak hasil komoditi pertanian yang menjadi tumpuan masyarakat nagari, seperti cengkeh, pinang, kakao, jagung, kacang tanah, & kulit manis.

Proses perontokan pipil jagung di Durian Basi, Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang Selatan kab. Padang Pariaman. Seperti halnya komoditi yang lain, sangat memerlukan prasarana jalan penghubung antar korong yang layak agar masyarakat nagari bisa dengan mudah mendistribusikan hasil buminya ke pasar pengumpul.

Jalan nagari yang sudah dilakukan pengerasan dengan sistem rabat beton di Pulai Tinggi, Korong Koto Panjang Nagari III Koto Aue Malintang Selatan, Kab. Padang Pariaman. Tampak pada foto anak nagari yang pulang dari ladang kelapa mengumpulkan daun kelapa kering untuk diambil lidinya yang nantinya akan dijadikan sapu.

Sisi lain jalan nagari antara Durian Basi - Simpang Ampek di Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang, Kab. Padang Pariaman.

Sisi lain jalan nagari antara Durian Basi - Simpang Ampek di Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang, Kab. Padang Pariaman.

Mesin molen milik Nagari III Koto Aue Malintang Timur yang saat ini digunakan dalam proses pembangunan Masjid Nagari yang rusak ketika gempa 30 September 2009 yang lalu.

Jalan nagari di Korong Lancang, III Koto Aue Malintang Selatan, kab. Padang Pariaman setelah dilakukan gotong royong bersama. Apabila tidak dilakukan pengerasan jalan dengan sistem rabat beton, dalam waktu 6-12 bulan mendatang, kondisi jalan nagari ini akan kembali seperti semula ketika belum dilakukan gotong royong. Semoga dengan publikasi foto & video ini bisa menjalinkan sinergi antara perantau Ikako Amal dengan pemerintahan nagari sehingga perbaikan mutu jalan nagari di kec. IV Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman bisa dilakukan dimasa mendatang.

Advertisements

Lubuak Larangan Alahan Bakali, Simpang Sarik Manih Nagari III Koto Aue Malintang Utara

Gotong royong membangun nagari merupakan khazanah lama dari budaya minangkabau, dimana pada tradisi lisan minangkabau disebutkan kebersamaan dalam masyarakat di nagari merupakan modal penting untuk membangun nagari. Kali ini LPM Marapalam berada di Cluster IV Koto Aue Malintang kabupaten Padang Pariaman dalam kegiatan pedampingan website nagari dimana hal ini berlangsung atas kerjasama DPP PKDP dengan pemkab Padang Pariaman dalam membangun jejaring nagari cyber yang dicanangkan sejak Januari 2012.

Pagi itu, 26 Januari 2012 setelah saya memberikan materi pelatihan website nagari selama 2 hari berturut-turut khusus untuk admin-admin di nagari III Koto Aue Malintang  Utara, tersusun rencana untuk melakukan hunting ke 6 korong yang ada di nagari ini. Sebenarnya akan sangat baik apabila hal ini didampingi oleh masing-masing wali korong yang ada, sehingga dokumentasi potensi nagari yang ada bisa diekspos lebih maksimal. Namun dunsanak seranah minang, survey & sosialisasi yang telah kita lakukan secara lisan pada 21-22 November 2011 yang lalu terkadang koordinasinya tidak berjalan seperti yang kita harapkan, sebab pada masa itu terjadi transisi kepemimpinan di 4 dari 5 nagari yang ada di cluster IV Koto Aue Malintang,  dari Pjs wali nagari yang ada ke wali nagari defenitif yang dipilih secara demokrasi langsung. Hal ini tidaklah bisa kita dengan serta merta menyalahkan individu perangkat nagari yang ada, sebab lebih terpulang bagaimana komunikasi perantau dengan pemerintahan nagarinya sehingga lebih siap dalam kegiatan pendampingan website nagari.

Pagi itu saya keluar dari kantor pemerintahan nagari III Koto Aue Malintang Utara di Padang Lariang setelah mengunci pintu kantor serta menitipkannya kepada tetangga di sebelah kantor. Sesuai rencana dari hasil mempelajari peta nagari edisi 1935 yang saya edit sendiri dari literatur peta Sumatera Universitas Leiden Belanda, serta hasil liputan sepekan yang lalu ke Sadang, Simpang Sarik Manih ketika menghadiri lomba PKK tingkat provinsi yang dibuka oleh bupati Ali Mukhni, pagi ini akan menncoba menyusuri jalan kampung di Landua melerengi perbukitan hingga ke batang Antokan di Korong Sarik Manih. Dari tofografi peta yang ada ada kemungkinan mendapatkan foto panorama persawahan di nagari dari atas perbukitan. Ternyata dugaan saya tidak keliru, subhanallah…. pagi itu terpampang keindahan alam yang indah, dimana terbentang persawahan mulai dari Siguhuang hingga ke Lubuk Basung kabupaten Agam, dengan keindahan aliran batang Antokan yang berhulu di Maninjau nun jauh disana akan bermuara di Muaro Putuih nagari Tiku Utara kec. Tanjuang Mutiara kab. Agam.

Keindahan panorama persawahan di Landua, nagari III Koto Aue Malintang Utara, Padang Pariaman dari perbukitan dengan sisi pandang 180º. Tampak aliran batang Antokan yang berhulu di danau Maninjau yang saat ini sering digunakan sebagai aset wisata arung jeram oleh wisatawan yang datang.

Setelah menyusuri persawahan & tiba disebarang, niat semula akan mengunjungi korong Siguhuang yang berada di sebelah korong Simpang Sarik Manih. Namun sebelum tiba di Siguhuang, mata saya terpaku melihat aliran tali air yang digunakan masyarakat untuk usaha budidaya keramba ikan air tawar. Ukuran ikan yang ada disini rata-rata sudah mencapai berat 700 gram per ekor, mungkin 2 bulan kedepan sudah tiba pula masanya untuk dipanen. Selain keramba yang ada, kiranya Ikatan Pemuda Simpang Sarik Manih juga memiliki lubuk ikan larangan di tali air ini, dimana pada bagian luar keramba terdapat ikan raya (mas) yang berenang bebas di tali air. Biasanya setahun sekali lubuk larangan selalu dilakukan pembongkaran dimana pemuda sebagai salah satu kelompok masyarakat di nagari akan mempergunakan hasil penjualan ikan tersebut untuk kegiatan yang ada di nagari.

Keramba ikan air tawar yang terdapat pada saluran tali air irigasi persawahan, dimana masyarakat setempat memanfaatkan bagian tepi tali air untuk digunakan usaha budidaya keramba ikan air tawar. Jenis varietas ikan yang sering dibudidayakan disini adalah ikan raya (mas) & ikan nila dengan masa panen 6 bulan sekali.

Perjalanan saya lanjutkan terus ke arah mudiak, menyusuri tepi batang air Antokan dengan tujuan Siguhuang. Namun diperjalanan sepeda motor yang saya kendarai kembali terhenti ketika berada di pertigaan. Apabila arah yang saya tempuh terus ke hulu akan memasuki wilayah Siguhuang & pada sebelah kanan tampak jembatan buai kontruksi besi yang tampaknya baru  setahun dibangun, dimana kondisi cat & lantai jembatan masih kelihatan kondisi baru. Terus terang hati saya menjadi bercabang, mungkin lebih baik dicoba untuk mengunjungi kampung di sebarang, lagi pula persawahannya tertata dengan rapi yang tentu saja sangat menggoda untuk didokumentasikan. Lagi pula hari masih pagi, mungkin saja nanti diperjalanan bisa ditemui petani yang sedang membajak sawah atau aktifitas lainnya. Tentunya akan sangat berguna apabila bisa berkomunikasi langsung dengan petani, mulai dari harga pupuk, bibit ikan, harga jual hasil tani dan lain sebagainya yang sangat membantu mengukur digunakan sebagai penilaian tingkat kesejahteraan petani disini. Dan ternyata saya memang beruntung pagi ini, mengapa?

Jembatan buai konstruksi besi yang menghubungkan kampung Alahan Bakali dengan Simpang Sarik Manih. Jembatan pada batang air Antokan ini merupakan hasil program PNPM tahun 2010, dimana dana program PNPM melalui hasil musyawarah masyarakat nagari diperuntukan membangun jembatan sehingga transportasi masyarakat bisa lebih lancar untuk mengirimkan hasil bumi.

Mengapa saya sebutkan sangat beruntung? Sebab peristiwa pembongkaran lubuk larangan hanya dilakukan sekali setahun. Bahkan untuk batang Tiku & batang Gasan Gadang di nagari III Koto Aue Malintang Selatan, kegiatan ini hanya dilakukan 2 tahun sekali. Bagi saya yang memang bukan anak nagari, sebab berasal dari luhak 50 Koto & babako ka luhak Agam, akan sangat menarik bisa meliput kegiatan membongkar lubuk larangan yang ada disini. Informasi ini saya dapatkan ketika singgah ke sebuah lapau (satu-satunya) yang ada di Alahan Bakali. Setelah mempekenalkan diri, mulai berbasa-basi seperti umumnya cara berinteraksi di nagari diperoleh informasi bahwa hari ini akan dilakukan gotong royong bersama untuk membongkar lubuk larangan.

Demikianlah essay foto tentang kegiatan gotong royong masyarakat nagari di kampung Alahan Bakali, Korong Simpak Sarik Manih, Nagari III Koto Aue Malintang Utara, kabupaten Padang Pariaman yang jaraknya hanya 7 km dari Lubuk Basung ibukota kabupaten Agam. Semoga essay ini juga memberikan paparan bagi kita semua masyarakat minang yang ada di berbagai belahan dunia bahwa sangat penting artinya memberdayakan ulayat nagari yang ada untuk membangun infrastruktur di nagari dengan semangat gotong royong. Salam dari ranah minang, tanah pusako bundo kanduang – LPM MARAPALAM.

Masyarakat kampung Alahan Bakali yang sedang berkumpul di lapau. Rupanya pagi ini direncanakan akan membongkar lubuk larangan di sebelah selatan kampung. Sebelum aktifitas dilakukan, masyarakat bermusyawarah terlebih dahulu bagaimana teknis pelaksanaan pembongkaran lubuk larangan. Untuk diketahui, malam sebelumnya para tokoh masyarakat termasuk niniak mamak sudah memutuskan bahwa pagi ini lubuk larangan di wilayah selatan akan dibongkar yang hasilnya akan digunakan untuk pembangunan jembatan di wilayah hilir.

Setiap laki-laki di kampung ini, mulai dari urang sumando hingga ke mamak bergotong royong untuk maampang batang Alahan Bakali yang aliran airnya berasal dari batang antokan. Batang air ini panjangnya kira-kira 2 km yang pada wilayah hilirnya kembali bermuara ke batang Antokan.

Foto ini secara jelas menyampaikan bahwa masyarakat di nagari adalah petani yang rajin bergotong royong. Kampung Alahan Bakali ini posisinya berada pada wilayah paling hulu (mudiak) di korong Simpang Sarik Manih. Seperti tip yang selalu saya berikan kepada dunsanak dimana saja yang ingin melihat nagari yang masih kental kebersamannya, carilah wilayah mudiak dimana pengaruh budaya dari luar belum begitu terasa, sehingga kita bisa melihat kehidupan masyarakat di nagari nan saiyo sakato, hidup badunsanak, tampek batenggang raso jo pareso.

Penutupan aliran batang air selain dilakukan dengan tumpukan batu juga disertai dengan terpal plastik. Dengan kerjasama seluruh masyarakat baik pemuda, mamak & urang sumando, dalam waktu hanya beberapa jam kegiatan ini bisa dirampungkan.

Kondisi batang Alahan Bakali setalah 2 jam selesai diampang. Sesuai hasil musyawarah, batang air ini akan ditutup selama 1 bulan ke depan, Dimana pada batang air sepanjang + 2 km akan dibangun keramba pada bagian tepi sehingga penghasilan masyarakat bisa bertambah. Hal ini bisa dilakukan apabila gotong royong nan sato sakaki, barek samo dipikua bisa dilakukan di nagari. Adalah hal yang penting kegiatan ini bisa dilakukan pada ratusan nagari yang ada di ranah minang, sehingga proses babaliak ke sistem pemerintahan nagari bisa mencapai sasaran.

Jembatan inilah yang nantinya akan dillakukan perbaikan dari hasil penjualan ikan Lubuak larangan Alahan Bakali. Sejak dari dulu, masyarakat disini selaku melakukan swadaya bersama membangun infrastruktur yang ada di nagari.

Tampak pada foto bagian samping jembatan yang telah terpasang gorong-gorong dengan cara swadaya. Walau tampak konstruksinya sangat sederhana, hal ini sangat dibutuhkan masyarakat dalam aktifitas sehari-hari yang bersawah & berladang, sehingga hasil bumi bisa didistribusikan langsung ke pasar di Lubuk Basung.

Seluruh masyarakat kampung Alahan Bakali tumpah ke batang air melakukan pemanenan ikan di lubuk larangan. varietas ikan yang ada antara lain : leman, raya, baung, gariang, nila & panjang. Di banyak nagari, kondisi batang air yang ada saat ini sudah jarang teradapat lubuk larangan. Akan lebih baik apabila di nagari-nagari di ranah minang hal ini bisa digiatkan kembali, selain untuk menjaga kelestarian sungai, juga bisa menopang perekonomian nagari & pembangunan infrastruktur yang ada nagari.

Salah satu ikan endemik Sumatera yang disebut ikan Panjang, walaupun bentuknya agak berbeda, memiliki cita rasa yang sangat gurih. Pada kegiatan membongkar lubuk larangan, baik tua maupun muda saling bacirabuik menangkap ikan yang ada sebagai salah satu gurauan ketika membongkar lubuk larangan.

Inilah ikan panjang terbesar yang berhasil ditangkap & terekam oleh kamera. Ketika terlihat seluruh masyarakat basihonjak riuh mengejar ikan ini agar tidak lari ke air. Posisi saya pada saat itu berada di atas jembatan, sehingga mudah mengabadikannya.

Mamak & kemanakan sama-sama berjibaku mencoba menangkap ikan panjang. Cara yang efektif menangkap ikan panjang adalah menggunakan sabit atau melemparnya dengan batu sungai. Perlu waktu paling tidak 20 menit hingga ikan ini menyerah setelah sempat menghilang ke dalam air. Warna tubuh yang coklat kehitang

Ikan Panjang terbesar hasil tanggapan masyarakat kampung Alahan Bakali. Untuk menangkap ikan ini diperlukan kehati-hatian, sebab dapat menggigit & menimbulkan luka yang cukup serius. Menurut keterangan masyarakat setempat apabila tergigit bagian anggota tubuh seperti jari tangan ataupun kaki, akan cukup sulit melepaskan gigitannya.

Ketika matahari mulai beranjak sore, masyarakat berkumpul di hilir batang air yang kembali bermuara di batang Antokan. Disini terpasang lukah yang merupakan alat tangkap terakhir yang digunakan untuk mengumpulkan ikan yang bergerak ke hilir sungai.

Kedua bocah ini menunggu dengan harap lukah yang akan dibuka ayahnya sambil berdoa semoga hasil yang diperoleh cukup banyak. Tentu saja bagi perantau minang hal ini adalah kenangan dimasa kecil yang tidak terlupakan, dimana dimasa kecil apabila mendapatkan seekor ikan yang cukup besar untuk diri sendiri adalah kebahagian yang tak terhinggga.

Ikan yang ditangkap kemudian dikumpulkan berdasarkan jenis, yang kemudian akan dibagi menjadi 42 tumpukan berdasarkan jumlah KK yang ada di Alahan Bakali, Korong Simpang Sarik Manih, Nagari III Koto Aue Malintang Utara, Padang Pariaman.

Tumpukan ikan hasil tangkapan bersama mulai dibagikan. Sore itu, diperoleh 42 tumpukan yang beratnya sekitar 4-5 kg per tumpuk. 41 tumpukan akan dibagikan dengan disertai penggantian uang oleh masyarakat nagari yang memperolehnya. Setelah itu, ikan yang ada bisa dibawa pulang ataupun dijual kembali oleh masyarakat kepada pengumpul yang akan menjualnya ke nagari sekitar. 1 tumpukan tersisa diberikan khusus oleh ketua pemuda IKPPS kepada fotografer... "Tarimo kasih pak ketua, indak ado doa panulak rasaki doh".

Ketua pemuda sedang memeriksa daftar nama masyarakat yang sudah menerima tumpukan ikan yang menjadi miliknya. Untuk 1 tumpukan, walaupun diperoleh masyarakat sendiri, harus disertai penggantian uang sebesar Rp. 35.000,-. Uang hasil penjualan inilah yang nantinya akan digunakan untuk memperbaiki jembatan yang ada.

Nagari Sebagai Unit Kesatuan Keamanan & Pertahanan

oleh : Mochtar Naim, 4 September  2011

Dari empat fungsi utama Nagari yang terlembaga di Minangkabau dan Sumatera Barat sekarang ini, termasuk Nagari sebagai unit kesatuan Keamanan dan Pertahanan. Tiga yang lainnya adalah: (1) Nagari sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan di tingkat terendah seperti Desa di Jawa dalam konteks NKRI sekarang ini; (2) Nagari sebagai unit kesatuan Adat dan Sosial-Budaya; dan (3) Nagari sebagai unit kesatuan Sosial-Ekonomi.  

Nagari sebagai unit kesatuan keamanan dan pengamanan serta pertahanan merupakan bahagian yang tidak bisa dipisahkan dan dilepaskan dari Nagari sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan dan dua yang lainnya. Sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan maka Nagari pun mengatur aspek keamanan dan pengamanan serta pertahanan secara otonom sesuai dengan sifat Nagari yang coraknya juga otonom seperti selama ini. Karenanya orang tidak akan menemukan ada perangkat kepolisian apalagi kemiliteran sebagai aparat dari Nagari di Nagari. Orang baru menemukan aparat kepolisian dan kemiliteran di Kecamatan dan Kabupaten dst ke atas. Hanya karena Nagari seperti juga Desa adalah bahagian dari wilayah Resor Kecamatan dan Kabupaten, maka Kepolisian di mana diperlukan akan turun ke Nagari seperti juga ke Desa yang sifatnya ad hoc dan insidental. Bantuan pada Kepolisian dimintakan kalau sudah tidak bisa ditangani langsung sendiri. Secara internal di Nagari urusan keamanan dan pertahanan dilakukan sendiri oleh Nagari sebagai bahagian dari sistem berNagari. Prinsip yang dipakai adalah: “Padi dikebat dengan daunnya.”

Dalam keadaan rutin sehari-hari, karenanya, orang tidak akan melihat ada tanda-tanda bahwa keamanan dan juga pertahanan di Nagari diatur secara khusus tersendiri – kecuali bahwa di samping kantor Wali Nagari atau Jorong biasa ada “pondok rundo” tempat para pemuda atau orang kampung pria lainnya suka berkumpul sambil bersenda-gurau seperti di lepau, sembari menjaga keamanan kampung sampai larut malam. Dan di dalamnya tidak ada apa-apa kecuali tempat untuk bersantai dan minum-minum, dan, sekali-sekali, ‘bagadang,’ atau tidur di sana sampai besok pagi. Tapi coba kalau terjadi ada insiden kegaduhan, kemalingan, kebakaran rumah, atau huru-hara apapun, para pemuda dan orang lelaki sekampung lainnya akan bergeduru secara spontan turun tangan menyekap dan menyelesaikan persoalannya secara kolektif bersama-sama.  Biasanya di setiap pondok rundo, yang kadang juga di kantor Wali Nagari, ada kentongan yang dibunyikan setiap kali ada musibah, misalnya ada kebakaran, kemalingan, waktu bergotong royong, dsb. Tapi semua itu kelihatannya sudah hilang ditelan masa, terutama sejak sistem keNagarian telah manjadi bahagian yang integral dari sistem pemerintahan yang terpusat sampai ke atas.

Dulu, ketika Nagari masih berdiri otonom, walau tidak kelihatan seperti ada apa-apa, pengaturan keamanan dan pertahanan berjalan secara relatif efektif. Sebagai contoh soal, kecil saja, bagaimana moralitas bermasyarakat dijaga justeru dengan melekatkan sanksi hukum yang berat, bahkan teramat berat, karena yang dituju adalah ‘efek jera’nya. Misalnya, terjadi perselingkuhan, atau hubungan muda-mudi yang sumbang-mencanda, lalu ketahuan. Keduanya diarak keliling kampung dengan dicibir dan dipermalukan untuk kemudian diceburkan ke tebat beramai-ramai untuk kemudian diusir dari kampung.

Bagaimanapun, masalah pengaturan keamanan dan pertahanan ini juga terkait kepada bagaimana bentuk hirarki Nagari ke tingkat yang lebih tinggi ke atas, yakni ke Kecamatan, Kabupaten, Provinsi dan ke Pusat. Dalam hal ini kita segera akan melihat beda yang relatif besar antara dahulu di zaman pra-kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan. Di zaman pra-kemerdekaan, yakni di zaman kolonial dahulu, pemerintah kolonial sadar betul bahwa dengan keterbatasan personil maupun aparat dan fasilitas yang tersedia, dibanding dengan luasnya wilayah daerah dan negara secara keseluruhan yang terdiri dari belasan ribu pulau-pulau, pemerintah kolonial sengaja menyerahkan banyak hal di tingkat Desa dan Nagari untuk diurus dan diatur oleh rakyat sendiri dengan perangkat adat yang dari semula sudah tertata menurut tatanan adat mereka masing-masing. Sendirinya, di bidang keamanan dan pertahanan ini praktis semua hal diserahkan kepada rakyat untuk mengatur dan mengelolakannya. Pemerintah baru turun tangan kalau desa ataupun nagari bersangkutan tidak mampu lagi menanggulangi dan menanganinya sendiri.

Di zaman pra-kemerdekaan, Nagari, karenanya, praktis memiliki otonomi yang luas sekali. Nagari adalah bagaikan republik kecil-kecil (petits republiques) yang mengatur semua urusan tidak hanya otonom tetapi bahkan independen. Semua ini, bagaimanapun, terbantu karena mekanisme adat yang tidak hanya sekadar filosofi hidup tetapi juga tertuang ke dalam perangkat aparat yang diperlukan, termasuk di bidang keamanan dan pertahanan ini. Tidak kurangya, melalui ketentuan adat, semua juga tertuang ke dalam norma-norma hukum kendati tidak tertulis sekalipun. Kita masih diingatkan dengan adanya bermacam undang-undang, termasuk undang-undang tentang dago-dagi, rebut-rampas, samun sakar, dsb, yang istilahnya saja sudah kedengaran aneh di telinga kita sekarang, di samping undang-undang kepidanaan maupun keperdataan asli lainnya yang diwariskan dari zaman beradat sundut-bersundut dahulu.

Namun dengan zaman kemerdekaan sekarang ini, karena semua hal mau diatur secara totalitas-menyeluruh, secara nasional, bahkan secara seragam dan hirarkis-vertikal dari pusat sampai ke daerah, yang segera lapuk dan tak terpakai lagi adalah tatanan adat di bidang pidana dan perdata yang berlaku di tingkat Nagari itu. Ekstrimnya seperti yang kita lihat sekarang, tidak ada yang jalan kalau tidak diatur oleh pemerintahan Nagari secara langsung. Dan Wali Nagari sendiripun kendati dibantu oleh aparat pemerintahan Nagari, praktis juga berjalan sendiri yang lengohannya ke atas ke Kecamatan dan Kabupaten, dan tidak ke samping kepada rakyatnya sendiri lagi. Kendati di Nagari juga ada DPR Nagari, yang sekarang namanya Bamus –Badan Musyawarah— Nagari, namun praktis tidak berjalan secara efektif karena tidak terbenahi secara kelembagaan dan finansial yang memadai. Bamus bermusyawarah lebih secara insidental kapan ada hal-hal mendesak yang perlu ditangani di samping yang sifatnya lebih seremonial pada upacara-upacara tertentu di tingkat Nagari.

Demikian juga dengan aparat ataupun mekanisme yang berkaitan dengan masalah keamanan dan pertahanan ini. Dahulu di setiap Nagari ada yang namanya Dubalang Nagari, ada Opas Nagari, ada bagian Keamanan Nagari, dsb, yang membantu Wali Nagari menangani masalah-masalah keamanan dan bahkan pertahanan Nagari. Sekarang semua itu kelihatannya telah terlipat dalam sejarah Nagari. Nagari sebaliknya lebih mengandalkan kekuatannya kepada Kecamatan dan Kabupaten di mana juga Nagari lebih dilihat sebagai bahagian yang integral ataupun ujung tombak dari pemerintahan Kecamatan dan Kabupaten daripada berdiri sendiri secara otonom seperti dahulu di zaman pra-kolonial ataupun kolonial.

Dahulu di zaman kolonial dan pra-kolonial, karena semua harus diatur dan diurus sendiri, sisi keamanan dan petahanan Nagari ini termasuk masalah yang ditangani secara serius dan bersungguh-sungguh justru oleh Nagari itu sendiri atau bersama dengan nagari-nagari di sekitarnya yang mempunyai kesamaan adat dan saling terkait secara adat dengan hubungan pertalian darah dan semenda-menyemenda, kawin-mawin, dsb. Pengidentifikasian Nagari Kecil ke luar sering justeru dengan memakaikan nama Nagari Gadangnya, bukan Nagari Kecil itu sendiri. Sebagai contoh sederhananya, Banuhampu, Sungai Pua, Ampek Angkek, Tilatang-Kamang, Ampek Koto, di sekitar Bukittinggi saja, misalnya, semua itu adalah Nagari Gadang yang merupakan kumpulan dari beberapa Nagari kecil yang memiliki kesamaan adat dan hubungan turun-temurun. Nagari-nagari Ketek inilah yang dijadikan sebagai unit kesatuan administratif pemerintahan terendah di Republik ini, sementara Nagari Gadang sekarang cenderung menjadi unit kesatuan administratif Kecamatan.

Nagari, dahulu, adalah sebuah identitas yang mau tak mau harus menjaga keamanan dan pertahanan Nagari sendiri karena alam di luarnya itu lebih dilihat sebagai ancaman daripada sekutu. Dahulu di atas Nagari hanya ada Luhak sebagai kesatuan totemis, yang dilambangkan kepada binatang totemik tertentu, seperti harimau di Agam, kucing di Tanah Datar dan kambing di Limapuluh Kota. Di atasnya lagi langsung ada Kerajaan Minangkabau yang sifatnya simbolis sebagai kesatuan kerajaan, yang otoritasnya lebih banyak diperlihatkan ke luar ke daerah rantau dan hubungan diplomatik dengan dunia luar, daripada ke kesatuan Nagari yang punya otonomi dalam mengatur diri sendiri.

Masalah keamanan dan pertahanan di tingkat Nagari ini justeru menjadi masalah sekarang ketika semua urusan ditangani oleh pemerintah, dari Nagari ke Kecamatan, Kabupaten, Provinsi, dst ke Pusat. Yang “anak nagari” alias penduduk warga yang menetap di kampung dan di Nagari, praktis tidak dibebani apa-apa kecuali membayar pajak ini-itu dan patuh pada pemerintah. Tidak ada kewajiban untuk menjaga keamanan kampung dengan “barundo” atau beronda malam, seperti dulu biasa terjadi ketika Nagari masih memiliki wewenang otonomi yang penuh.

Kecuali itu, Nagari kelihatannya sekarang lebih rentan keamanan dan pertahanan, baik karena mekanisme keamanan dan pengamanan sertapun ketahanan tidak lagi berfungsi efektif karena semua-semua telah diborong habis oleh pemerintah dari bawah sampai ke atas, yang karenanya ketiadaan keterlibatan dan rasa tanggung-jawab rakyat sendiri dalam turut menjaga aspek keamanan dan pertahanan di Nagari sendiri, maupun faktor-faktor luar yang masuk yang makin susah dikontrol dan dikendalikan. Faktor-faktor luar ini bukan hanya bersifat fisikal-material tapi juga moral dan spiritual.

Sebuah pemikiran paradigmatik baru yang lebih komprehensif, integral dan berorientasi ke depan, dengan mengingat perubahan-perubahan mau tak mau terjadi dan harus terjadi, agaknya diperlukan, terutama dalam rangka upaya bagaimana melibatkan rakyat dan warganegara sendiri dalam ikut menjaga dan memelihara sisi keamanan dan pertahanan dari kehidupan bernagari itu. ***

tulisan bisa didownload pada link dibawah ini :

http://www.box.com/s/x9s1zx9eis7e936aq2e2