Kondisi Jalan Nagari di 5 Nagari Kec. IV Koto Aue Malintang, Kab. Padang Pariaman

Dalam budaya minangkabau, sering disebutkan bahwa sarana prasarana jalan merupakan faktor penting untuk membangun masyarakat nagari. Hal ini dapat dilihat dalam penggunaan kalimat pada tradisi lisan minangkabau seperti :

Adaik tanyo iyo bajawek, adaik gayuang iyo basambuik Jalan nan pasa kito turuik, labuah nan  golong kito tampuah

Sejak dahulu, dalam khazanah budaya minangkabau, mengenai sarana perhubungan sangat diperlukan untuk mobilitas masyarakat nagari. Hal ini dapat kita lihat pada nagari-nagari di Luhak Nan Tigo, dimana sarana perhubungan ini diusahakan untuk layak digunakan oleh masyarakat, sehingga roda perekonomian di nagari tidak mengalami kendala berarti dengan mudahkan mobilisasi untuk memindahkan hasil bumi yang merupakan sektor riil penghasilan masyarakat.

Video dokumentasi LPM Marapalam ketika melakukan pendampingan website nagari di cluster IV Koto Aue Malintang. Kondisi jalan nagari di Korong Koto Panjang, Nagari III Koto Aue Malintang Selatan, kec. IV Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman. Video ini mewakili kondisi jalan nagari antar korong yang ada di 50 Korong pada 5 nagari kec. IV Koto Aue Malintang. Diperlukan sinergi bersama antara perantau Ikako Amal dengan 5 pemerintahan nagari untuk memperbaiki kondisi jalan nagari yang ada saat ini. Semoga perantau Ikako Amal bisa mampasamoan hal iko dimaso nan akan datang.

Selama melakukan pendampingan website nagari di cluster IV Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman, kami sempat mewawancarai beberapa penduduk nagari yang berusia lanjut, dimana pada era 70-80an sarana perhubungan di wilayah ini dalam kondisi yang cukup memprihatinkan, dimana jalan nagari pada masa itu belum dilakukan pengaspalan – hanya jalan tanah dengan pengerasan dengan kerikil – serta belum terdapatnya jembatan di Batang Tiku sehingga banyak masyarakat di III Koto Aue Malintang pada masa ini sering terlambat datang ke sekolah setingkat SLTP yang berada di Sungai Garinggiang.

Alhamdulillah, saat ini kondisi jalan utama antar nagari, mulai dari Sigata hingga Kapalo Gasan, lalu ke Simpang Ampek Aue Malintang dimana terdapat persimpangan menuju Balai Baiak Malai III Koto hingga ke Gasan Gadang sudah diaspal dengan baik oleh pemkab Padang Pariaman. Begitu pula kondisi yang ada saat ini dari Simpang Ampek Aue Malintang menuju Batu Basa, hingga ke Padang Maduang & Sungai Pingai serta menuju Kampuang Pinang hingga Padang Lariang tembus ke Lubuak Basuang, ibukota kab. Agam. Jikalau ada jalan antar nagari yang kondisinya belum layak pakai hanyalah dari Batu Basa menuju Durian Jantung, dimana setelah Koto Kaciak memasuki wilayah Nagari III Koto Aue Malintang Timur saat ini kondisi aspal yang ada perlu dilakukan pengaspalan ulang oleh pemkab Padang Pariaman. Jalan ini yang bisa menghubungkan Durian Jantung & Padang Polongan ke Padang Pariang di III Koto Aue Malintang Utara.

Ulasan ini kami publikasikan sesungguhnya bukan membahas jalan antar nagari yang ada di kec. IV Koto Aue Malintang, melainkan kondisi jalan penghubung antar korong yang ada di 5 nagari. Saat ini kondisi jalan nagari yang ada cukup memprihatinkan, dimana 70 % jalan nagari yang ada tidak layak pakai. Hal ini apabila mengkaji luas wilayah di kecamatan termuda Kab. Padang Pariaman bisa dimaklumi bahwa pembangunan jalan nagari akan terus dilakukan, baik melalui proyek pengerjaan jalan nagari oleh dinas PU kabupaten, maupun melalui program PNPM dimana masyarakat nagari bisa memusyawarahkan hal ini agar diperuntukan merehabilitasi jalan nagari.

Namun dunsanak saranah minang dimana saja berada, khususnya perantau Ikako Amal dipenjuru nusantara, apabila kita mengkaji rentang jumlah km jalan nagari yang ada, hal ini tidak bisa diharapkan untuk menunggu pembangunan dari Pemkab Padang Pariaman saja. Sebab alokasi dana yang terbatas & kondisi yang sama juga terjadi di banyak nagari-nagari di Padang Pariaman, membutuhkan perhatian bersama oleh perantau untuk sato sakaki membantu pembangunan jalan nagari.

Mengapa hal ini kami paparkan demikian? Semangat gotong royong masyarakat nagari yang saat ini sedang mambuncah melalui program kabupaten, memerlukan uluran tangan dari perantau untuk membantu pengadaan material pengerasan jalan yang menghubungkan antar korong di 5 nagari kec. IV Koto Aue Malintang. Dimana, masyarakat nagari saat ini secara rutin sepekan sekali melakukan gotong royong bersama memperbaiki jalan nagari, membutuhkan material semen sebagai bahan baku utama untuk membangun rabat beton jalan nagari. Hal ini sangat diperlukan, sebab kondisi jalan nagari yang sebagian besar adalah jalan tanah, apabila tidak dilakukan pengerasan dengan cor semen akan kembali pada bentuk semula sebelum dilakukan gotong rotong.

Menurut hemat kami, paling tidak dalam sebulan sekali, perantau-perantau Ikako Amal bisa mengirimkan bahan baku semen paling tidak 1-2 zak perorang, dimana hal ini akan sangat membantu proses pengerasan jalan yang dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat nagari. Apabila dimasing-masing korong bisa melakukan pengerasan jalan dengan metoda rabat beton dalam sebulan sekali, proses pembangunan jalan nagari progresnya akan semakin cepat & dengan cara gotong royong inilah nantinya yang akan menghubungkan ikatan lahir & bathin antara masyarakat nagari dengan perantau. Lagi pula, kalau bukan kita sebagai anak nagari, siapa lagi yang bisa diharapkan untuk membangun kampung halaman sendiri?

Dari 5 nagari yang ada di kec. IV Koto Aue Malintang, saat ini hanya nagari III Koto Aue Malintang Timur saja yang memiliki mesin molen yang sangat dibutuhkan untuk proses pengadukan material semen, pasir & kerikil. Kedepan sesuai harapan kami, semoga perantau-perantau dari 4 nagari lainnya bisa mengusahakan akan pemerintahan nagari memiliki mesin yang serupa, sehingga masyarakat yang ada di 50 Korong yang ada di 5 nagari kec. IV Koto Aue Malintang bisa secara bersama-sama memperbaiki kualitas jalan nagari.

Demikian publikasi tulisan tentang kondisi jalan nagari di kec. IV Koto Aue Malintang ini kami publikasikan, semoga kedepan perantau bersama-sama pemerintahan nagari bisa melakukan sinergi untuk meningkatkan mutu jalan nagari, amin ya Rabbal alamin.

wasalam
LPM Marapalam

Kondisi jalan nagari di Sarik Laweh, Korong Batu Caluang Nagari IIII Koto Aue Malintang Selatan, Padang Pariaman. Pengecoran jalan dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dimana pada trek pendakian dilakukan pengecoran dengan semen sehingga pada kondisi hujan masih bisa dilalui dengan mudah oleh kendaraan roda dua.

Jalan nagari di Batu Caluang yang menuju area persawahan di sepanjang tepian batang Tiku. Saat ini selain roda dua, jalan nagari ini juga dilalui oleh gerobak yang menggunakan tenaga kerbau untuk mengangkut hasil bumi dari area pertanian ke perkampungan penduduk.

Tampak pada foto jalan nagari di Korong Batu Caluang, Nagari III Koto Aue Malintang Selatan. Jalan ini dilakukan pemeliharaan dengan cara bergotong royong secara bersama-sama oleh masyarakat nagari. Karena kemampuan finasial masyarakat nagari yang masih terbatas, saat ini belum dilakukan pengerasan dengan rabat beton. Apabila hujan turun, jalan nagari ini disarankan tidak digunakan sementara waktu.

Jalan Nagari di Sarik Laweh, Korong Batu Caluang, Nagari III Koto Aue Malintang.

Jalan nagari di Durian Basi, Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang Selatan, kab. Padang Pariaman. Kondisi jalan nagari yang sudah dilakukan pengerasan jalan dapat dilanjutkan dengan pengecoran dengan sistem rabat beton.

Kondisi yang sama pada jalan nagari di Simpang Ampek Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang, Padang Pariaman. Jalan nagari ini memiliki panjang 6 km dengan kondisi sebahagian sudah dilakukan pengecoran dengan sistem rabat beton (terutama pada trek pendakian). Untuk trek yang lebih datar kondisinya bisa dilihat pada foto terlampir.

Salah satu trek pendakian di jalan nagari korong Koto Panjang, Nagari III Koto Aue Malintang, kab. Padang Pariaman. Pengecoran ini dilakukan agar jalan nagari ini tetap bisa digunakan apabila hujan turun.

Kondisi jalan nagari antara Durian Basi dengan Pulai Tinggi di Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang. Pada umumnya di 5 nagari pada kec. IV Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman jalan nagari yang ada dalam kondisi yang sama. Diperlukan peran serta masyarakat nagari untuk terus melakukan gotong royong yang dalam 4 bualn terakhir ini sedang giat-giatnya & sangat diharapkan peran perantau Ikako Amal untuk membantu pengadaan material semen untuk pengerasan jalan dengan sistem rabat beton.

Siswa SD Durian Basi, Korong Koto Panjang III Koto Aue Malintang Selatan, Padang Pariaman. Inilah generasi penerus masyarakat minang, dimana kita sebagai generasi terdahulu wajib memikirkan untuk mempersiapkan generasi muda untuk melanjutkan tanggung jawab mengatur tatanan masyarakat minangkabau agar semakin teguh memegang adagium Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Anak nagari III Koto Aue Malintang Selatan di kampung Pulai Tinggi Korong Koto Panjang yang membantu urang tuanya sepulang sekolah untuk mengupas buah pinang yang merupakan salah satu komoditi andalan masyarakat di Kec. IV Koto Aue Malintang, Padang Pariaman. Untuk mengirimkan hasil bumi ini dibutuhkan kondisi perhubungan yaitu jalan nagari yang lebih layak dari yang sudah ada saat ini.

Biji kakao yang sedang dikeringkan, merupakan salah satu komoditi andalan di kec. IV Koto Aue Malintang, yang juga merupakan komiditi andalan di kab Padang Pariaman. Seperti halnya komoditi lain, memerlukan kondisi sarana perhubungan jalan nagari yang lancar untuk memudahkan akses masyarakat nagari mendistribusikan hasil bumi ke pasar pengumpul.

Tanaman Kakao di kampung Pulai Tinggi Korong Koto Panjang, Nagari III Koto Aue Malintang, Kab. Padang Pariaman. Tampak pada foto sistem penanaman kakao dilakukan dengan metoda tumpang sari dengan tanaman pinang.

Kampung Pulai Tinggi merupakan salah satu perkampungan di titik tertinggi pada kec. IV Koto Aue Malintang, selain di kampuang Sianok, Korong Kampuang Tajuang, Kampuang Padang Asam Korong Kampuang Tangah, Lancang Mudiak, Korong Lancang & Korong Padang Polongan. Di wilayah hulu ini menghasilkan komoditi Kulit Manis (casiavera sp) yang merupakan komoditi masyarakat nagari di dataran tinggi ranah minang.

Wali Korong Koto Panjang, Syahrial Koto sedang menunjukan jalan nagari yang perlu dilakukan rabat beton mengingat trek jalan nagari ini merupakan jalan pendakian & hampir setiap hari dalam kondisi lembab/basah.

Masyarakat nagari di Pulai Tinggi Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman sedang mengangkut hasil pertanian komoditi jagung. Tampak pada foto jalan nagari yang telah dilakukan rabab beton dengan lebar jalan 2,5 meter yang merupakan hasil program PNPM 2010.

Proses perontokan pipil jagung di Durian Basi, Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang Selatan kab. Padang Pariaman. Di kec. IV Koto Aue Malintang kab Padang Pariaman, selain pertanian padi & kelapa, terdapat banyak hasil komoditi pertanian yang menjadi tumpuan masyarakat nagari, seperti cengkeh, pinang, kakao, jagung, kacang tanah, & kulit manis.

Proses perontokan pipil jagung di Durian Basi, Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang Selatan kab. Padang Pariaman. Seperti halnya komoditi yang lain, sangat memerlukan prasarana jalan penghubung antar korong yang layak agar masyarakat nagari bisa dengan mudah mendistribusikan hasil buminya ke pasar pengumpul.

Jalan nagari yang sudah dilakukan pengerasan dengan sistem rabat beton di Pulai Tinggi, Korong Koto Panjang Nagari III Koto Aue Malintang Selatan, Kab. Padang Pariaman. Tampak pada foto anak nagari yang pulang dari ladang kelapa mengumpulkan daun kelapa kering untuk diambil lidinya yang nantinya akan dijadikan sapu.

Sisi lain jalan nagari antara Durian Basi - Simpang Ampek di Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang, Kab. Padang Pariaman.

Sisi lain jalan nagari antara Durian Basi - Simpang Ampek di Korong Koto Panjang, III Koto Aue Malintang, Kab. Padang Pariaman.

Mesin molen milik Nagari III Koto Aue Malintang Timur yang saat ini digunakan dalam proses pembangunan Masjid Nagari yang rusak ketika gempa 30 September 2009 yang lalu.

Jalan nagari di Korong Lancang, III Koto Aue Malintang Selatan, kab. Padang Pariaman setelah dilakukan gotong royong bersama. Apabila tidak dilakukan pengerasan jalan dengan sistem rabat beton, dalam waktu 6-12 bulan mendatang, kondisi jalan nagari ini akan kembali seperti semula ketika belum dilakukan gotong royong. Semoga dengan publikasi foto & video ini bisa menjalinkan sinergi antara perantau Ikako Amal dengan pemerintahan nagari sehingga perbaikan mutu jalan nagari di kec. IV Koto Aue Malintang kab. Padang Pariaman bisa dilakukan dimasa mendatang.

Advertisements

Survey & Sosialisasi Kegiatan Pendampingan Website Nagari Di Cluster V Koto Kampuang Dalam & V Koto Timur, Kab Padang Pariaman

Sesuai rencana, perjalanan LPM Marapalam melakukan sosialisasi kepada 5 pemerintahaan nagari di Kec. V Koto Kampuang Dalam & Kec. V Koto Timur kab. Padang Pariaman untuk keperluan rencana pendampingan website nagari yang sepenuhnya akan didukung oleh perantau-perantau dari 2 kecamatan ini (IK LIMKOS – Ikatan Keluarga Limo Koto & sekitarnya) yang merupakan sinergi dari Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP) & Pemkab. Padang Pariaman.

Tim memulai survey 23 Februari 2012 pukul 11.00 wib dari Pariaman, yang kemudian mengunjungi nagari Campago, V Koto Kampuang Dalam. Diterima oleh Wali Nagari Campago, Fabet Effendi untuk sosialisasi sekaligus melakukan pendataan koneksi internet yang terdapat di nagari serta jumlah perangkat komputer yang dimiliki. Selanjutnya perjalanan diteruskan menuju nagari Kudu Gantiang, V Koto Timur untuk melakukan pendataan. Rute ini dipilih karena wali nagari Sikucue, Masril sedang melakukan pertemuan dengan bupati Padang Pariaman Ali Mukhni untuk menyerahkan bantuan dari pangajian wirid yasin SKPD Pemkab Padang Pariaman di Toboh Marunggai kepada Netti Irawati, anak nagari Sikucue yang menderita penyakit kanker kulit ganas.

Dari hasil koordinasi dengan wali nagari Kudu Gantiang, Syafnil Oyon, yang sedang menghadiri kegiatan Badikie di beberapa surau nagari bersama Camat V Koto Timur, Nini Arlin S.Sos, dilakukan dokumentasi & pendataan di kantor pemerintahan nagari yang diterima oleh Seknag Kudu Gantiang, Dedi Aprianto, SE.

Perjalanan diteruskan ke nagari Gunuang Padang Alai, V Koto Timur & diterima oleh wali nagari Gunuang Padang Alai, Syafrizal SH. Setelah melakukan pendataan, kemudian perjalanan dilanjutkan ke nagari Sikucue, V Koto Kampuang Dalam, bertemu dengan Wali Nagari Masril. Setelah ba’da Maghrib tim LPM Marapalam bersama wali nagari menuju kantor pemerintahan nagari Sikucue untuk meninjau langsung kondisi peralatan yang ada serta melakukan dokumentasi.

Atas koordinasi wali nagari Sikucue, malam itu juga dihubungi via ponsel wali nagari Limau Puruik, Arifnal SPd & sepakat bertemu di rumah beliau. Setelah dilakukan sosialisasi, dirundingkan bersama dengan wali nagari Sikucue untuk melakukan pertemuan esok harinya di kantor pemerintahan nagari Campago bersama 5 wali nagari beserta 2 Camat. Semula jadwal pertemuan direncanakan pagi hari, namun setelah koordinasi dengan seluruh wali nagari bersama kecamatan disepakati untuk melakukan pertemuan pukul 15.00 wib 24 Februari 2012 di kantor pemerintahan nagari Campago, V Koto Kampuang Dalam.

Keesokan harinya, tepat pukul 15.00 wib diadakan pertemuan bersama antara LPM Marapalam dengan 5 wali nagari di 2 kecamatan bersama camat V Koto Timur & Sekcam V Koto Kampuang Dalam. Lokasi pertemuan dilakukan di depan kantor pemerintahan nagari, hal ini dikarenakan ruang pertemuan kantor pemerintahan nagari masih dipakai oleh masyarakat untuk pertemuan membahas koperasi nagari bersama-sama lembaga nagari terkait.

Dari hasil pertemuan dilakukan sosialisasi tentang rencana kegiatan pendampingan website nagari ci Cluster V Koto Kampuang Dalam & V koto Timur, dimana seluruh hal teknis dibahas mulai dari peralatan pelatihan, bantuan peralatan dari perantau, koneksi jaringan internet, jumlah peserta pelatihan yang dibutuhkan, waktu pelatihan serta koordinasi dengan organisasi perantau IK LIMKOS, DPP PKDP & Tim Petik Pemkab Padang Pariaman.

Setelah data perantau diperoleh dari masing-masing wali nagari, pada saatnya data ini akan diteruskan oleh LPM Marapalam ke DPP PKDP di Jakarta untuk kemudian dilakukan sosialisasi serta koordinasi menyeluruh kepada perantau-perantau yang berasal dari 5 nagari di kec. V Koto Kampuang Dalam & kec. V Koto Timur, kab. Padang Pariaman.

========================

1. Nagari Campago, V Koto Kampuang Dalam (WN Fabet Effendi).

a. Koneksi jaringan internet : line telepon/speedy : sejak pasca gempa 2009 tidak terpasang => Dilakukan pendaftaran kembali beserta paket speedy unlimited paket socialia.

b. Peralatan yang ada saat ini 3 unit komputer dengan spesifikasi :

PC 1
– Intel Pentium IV 2,4 GHz
– Monitor LCD 15″
– Hardisk 40 Gygabyte
– Memorry 512 Megabyte

PC 2
– Intel Pentium IV 2,8 GHz
– Monitor CRT 15″
– Hardisk 80 Gygabyte
– Memorry 512 Megabyte

PC 3
– Intel Pentium IV 1,8 GHz
– Monitor CRT 15″
– Hardisk 40 Gygabyte
– Memorry 512 Megabyte
Printer
– Printer HP 3920 kondisi baik
– Printer HP 3920 kondisi baik
– Printer HP D1660 kondisi baik

c. Perlu penambahan 1 unit komputer Intel Pentium Dual Core dari perantau.
========================

2. Nagari Sikucue, V Koto Kampuang Dalam (WN Masril)

a. Kondisi Jaringan GSM buruk (Telkomsel)

b. Peralatan yang ada saat ini 1 unit komputer dengan spesifikasi :
– Intel Pentium Core to duo 2,2 GHz
– Monitor LCD Samsung 19″
– Hardisk 160 Gygabyte
– Memorry 1 Gygabyte

Printer
– Printer Canon IP 2770 kondisi baik

c. Perlu tambahan 1 unit komputer Intel Pentium Dual Core + Modem USB type Highspeed + Antenna Penangkap Sinyal + Camera Digital Pocket dari perantau.
========================

3. Nagari Limau Puruik, V Koto Timur (WN Arifnal, SPd)

a. Kondisi Jaringan GSM Buruk (Telkomsel)

b. Peralatan yang ada saat ini 1 unit komputer dengan spesifikasi :
– Intel Pentium Dual Core 2,7 GHz
– Monitor LCD Acer 19″
– Hardisk 160 Gygabyte
– Memorry 1 Gygabyte

Printer
– Printer Canon IP 2770 kondisi baik

c. Perlu tambahan 1 unit komputer Dual Core + Modem USB type Highspeed + Antenna Penangkap Sinyal + Camera Digital Pocket dari perantau.
========================

4. Nagari Kudu Gantiang, V Koto timur (WN Syafnil Oyon)

a. Kondisi Jaringan GSM Buruk (Telkomsel)

b. Peralatan yang ada saat ini 1 unit komputer dengan spesifikasi :
– AMD Athlon 2,9 GHz
– Monitor LCD Acer 15″
– Hardisk 160 Gygabyte
– Memorry 1 Gygabyte

Printer
– Printer Canon IP 2770 kondisi baik

c. Perlu tambahan 1 unit komputer Dual Core + Modem USB type Highspeed + Antenna Penangkap Sinyal + Camera Digital Pocket dari perantau.
========================

5. Nagari Gunuang Padang Alai, V Koto timur (WN Syafnil Oyon)

a. Kondisi jaringan GSM : Baik (Telkomsel).

b. Peralatan yang ada saat ini hanya mesin tik, kantor pemerintahan nagari rata dengan tanah ketika gempa 29 September 2009.

c. Perlu tambahan 1 unit komputer Dual Core + Modem USB type Highspeed + Printer Inkjet + Camera Digital Pocket dari perantau.

========================

Berikut hasil laporan ringkas yang dapat kami lakukan pada Cluster V Koto Kampuang Dalam & V Koto Timur, kab. Padang Pariaman. Semoga bermanfaat, amin ya Rabbal alamin.

Padang, 26 Februari 2012

LPM Marapalam

Kantor Pemerintahan Nagari Campago, Kec. V Koto Kampuang Dalam. Tampak pada foto, tiang telepon PT Telkom yang merupakan infrastruktur jaringan internet koneksi telepon yang bisa digunakan nagari dengan fasilitas speedy.

Sisi lain kantor pemerintahan nagari Campago, pada gambar terlihat gedung pemerintahan ini dalam kondisi layak pakai, namun apabila kita melihat pada sisi bagian dalam sebenarnya banyak terdapat retakan yang harus diperbaiki dengan segera akibat gempa 30 September 2009 yang lalu.

2 unit komputer yang digunakan pada ruangan Kaur pemerintahan nagari Campago untuk memproduksi surat-surat pelayanan masyarakat nagari.

1 unit kumputer pada ruangan sekretaris nagari Campago, Kec. V Koto Kampuang Dalam.

Kantor darurat pemerintahan nagari Kudu Gantiang, Kec. V Koto Timur. Kantor ini merupakan bangunan semi permanen dengan dinding triplek. Saat ini kantor pemerintahan nagari Kudu Gantiang dalam kondisi rusak berat akibat gempa 30 September 2009.

Sisi lain kantor pemerintahan nagari Kudu Gantiang, Kec. V Koto Timur.

Sekretaris nagari bersama Kaur di kantor pemerintahan nagari Kudu Gantiang saat menerima LPM Marapalam untuk keperluaan pendataan infrstruktur & peralatan komputer di nagari.

Peralatan komputer yang dimiliki pemerintahan nagari Kudu Gantiang, Kec. V Koto Timur

Bersama Wali Korong, Sekretaris nagari & Kaur di kantor pemerintahan nagari Kudu Gantiang.

Tampak pada foto kantor darurat pemerintahan nagari Gunuang Padang Alai, Kec. V Koto Timur. Pada sebelah kiri foto terlihat sisa bangunan kantor pemerintahan nagari Kudu Gantiang yang hancur ketika gempa 30 September 2009. Menurut informasi yang diterima dilapangan, pemkab Padang Pariaman memprioritaskan pembangunan kembali kantor pemerintahan nagari ini.

Sisi depan kantor pemerintahan nagari Gunuang Padang Alai.

Saat ini pemerintahan nagari Gunuang Padang Alai tidak memiliki perangkat komputer untuk pelayanan masyarakat nagari. Hanya tersisa 1 unit mesing tik yang berhasil selamat dari bencana gempa 30 September 2009.

Wali Nagari Gunuang Padang Alai bersama staf ketika menerima LPM Marapalam untuk melakukan pendataan peralatan & kondisi jaringan internet di nagari.

Meja komputer yang masih bisa diselamatkan ketika gempa 30 September 2009. Mudah-mudahan dengan publikasi ini perantau LIMKOS bisa membantu pengadaan peralatan komputer paling tidak 2 unit untuk kelancaran pelayanan masyarakat nagari Gunuang Padang Alai dengan jumlah penduduk 10.196 jiwa (sensus penduduk 2010).

Tampak depan kantor pemerintahan nagari Sikucue, Kec. V Koto Kampuang Dalam. Tampak pada foto pada sisi kanan bangunan disangga dengan kayu. Sekitar 45% diding bagian atas bangunan kantor hanya bertumpu pada bata bagian bawah. Sudah selayaknya kantor ini dilakukan perbaikan segera, semoga perantau bisa memberikan bantuan dimasa yang akan datang.

Kayu penyangga ini digunakan untuk mengurangi beban dinding terhadap berat atap bangunan kantor pemerintahan nagari Sikucue.

Bagian samping kantor pemerintahan nagari Sikucue dilihat dari dalam. Semoga bisa dilakukan perbaiakan secepatnya.

Peralatan komputer di kantor pemerintahan nagari Sikucue, Kec. V Koto Kampuang Dalam

Wali Nagari Sikucue, Masril ketika menerima LPM Marapalam untuk melakukan pendataan perangkat komputer serta koneksi jaringan GSM. Nagari ini merupakan salah satu nagari di Cluster V Koto Kampuang Dalam & V Koto Timur yang memiliki koneksi GSM terlemah dengan minimnya jumlah antenna terpasang di tower provider Telkomsel dengan jumlah penduduk 15.921 jiwa (sensus 20100. Tingginya jumlah pengguna ponsel mengakibatkan jaringan koneksi GSM di nagari ini kerap overload pada jam tertentu.

Kantor pemerintahan nagari Limau Puruik, Kec. V Koto Timur yang saat ini tidak digunakan untuk sementara waktu akibat kerusakan yang dialami ketika gempa 30 September 2009.

Meskipun tidak digunakan lebih 2 tahun, kantor pemerintahan nagari Limau Puruik secara swadaya terus dilakukan perbaikan secara bertahap. Tampak pada foto tiang bangunan yang diganti & diperbanyak untuk mempertahankan bangunan di wilayah rawan gempa.

Kantor darurat pemerintahan nagari Limau Puruik, Kec. V Koto Timur. Kantor ini 100 % materialnya dibuat dari bahan kayu.

Peralatan komputer di kantor pemerintahan nagari Limau Puruik, Kec. V Koto Timur.

Sisi lain kantor pemerintahan nagari Limau Puruik.

Pertemuan bersama LPM Marapalam dengan 5 Wali Nagari Cluster V Koto Kampuang Dalam & V Koto Timur, Camat V Koto Timur beserta Sekretaris Camat V Koto Kampuang Dalam.

Ke 5 Wali Nagari sedang berdiskusi membahas rencana pendampingan website nagari bersama Camat V Koto Timur, Nini Arlin, S.Sos (baju biru), tampak di sebelah kanan Camat V Koto Timur adalah Wali Nagari Kudu Gantiang, Syafnil Oyon, lalu Wali Nagari Limau Puruik, Arifnal SPd, kemudian Wali Nagari Campago, Fabet Effendi (menghadap kamera), Sekretaris Camat V Koto Kampuang Dalam, Syafril SPd (memakai peci), Wali Nagari Sikucue, Masril (memakai topi).

Sekretaris Camat V Koto Timur , Syafril SPd & Wali Nagari Campago, Fabet Effendi dalam diskusi bersama LPM Marapalam.

Wali Nagari Sikucue, Masril bersama Wali Nagari Gunuang Padang Alai, Syafrizal, SH.

Wali Nagari Kudu Gantiang, Syafnil Oyon bersama Camat V Koto Timur, Nini Arlin, S.Sos

Diskusi bersama dilakukan di palanta depan kantor pemerintahan nagari Campago, Kec. V Koto Kampuang Dalam. Hal ini dikarenakan rapat koperasi masyarakat nagari Campago masih berlangsung di kantor pemerintahan nagari.

Masyarakat nagari Campago yang sedang melakukan pertemuan membahas koperasi nagari.

Tampak dari pintu masuk kantor pemerintahan nagari, palanta diskusi ke 5 wali nagari kec. V Koto Kampuang Dalam & V Koto Timur bersama Camat V Koto Timur & Sekcam V Koto Kampuang Dalam.

Wali Nagari Limau Puruik, Arifnal SPd sedang menulis daftar nama perantau beserta kontak person yang diperlukan DPP PKDP untuk mensosialisasikan kegiatan pendampingan website nagari di Cluster V Koto Kampuang Dalam & V Koto Timur.

Wali Nagari Gunuang Padang Alai, Syafrizal, SH sedang menulis daftar nama perantau beserta kontak person yang diperlukan DPP PKDP untuk mensosialisasikan kegiatan pendampingan website nagari di Cluster V Koto Kampuang Dalam & V Koto Timur.

Lubuak Larangan Alahan Bakali, Simpang Sarik Manih Nagari III Koto Aue Malintang Utara

Gotong royong membangun nagari merupakan khazanah lama dari budaya minangkabau, dimana pada tradisi lisan minangkabau disebutkan kebersamaan dalam masyarakat di nagari merupakan modal penting untuk membangun nagari. Kali ini LPM Marapalam berada di Cluster IV Koto Aue Malintang kabupaten Padang Pariaman dalam kegiatan pedampingan website nagari dimana hal ini berlangsung atas kerjasama DPP PKDP dengan pemkab Padang Pariaman dalam membangun jejaring nagari cyber yang dicanangkan sejak Januari 2012.

Pagi itu, 26 Januari 2012 setelah saya memberikan materi pelatihan website nagari selama 2 hari berturut-turut khusus untuk admin-admin di nagari III Koto Aue Malintang  Utara, tersusun rencana untuk melakukan hunting ke 6 korong yang ada di nagari ini. Sebenarnya akan sangat baik apabila hal ini didampingi oleh masing-masing wali korong yang ada, sehingga dokumentasi potensi nagari yang ada bisa diekspos lebih maksimal. Namun dunsanak seranah minang, survey & sosialisasi yang telah kita lakukan secara lisan pada 21-22 November 2011 yang lalu terkadang koordinasinya tidak berjalan seperti yang kita harapkan, sebab pada masa itu terjadi transisi kepemimpinan di 4 dari 5 nagari yang ada di cluster IV Koto Aue Malintang,  dari Pjs wali nagari yang ada ke wali nagari defenitif yang dipilih secara demokrasi langsung. Hal ini tidaklah bisa kita dengan serta merta menyalahkan individu perangkat nagari yang ada, sebab lebih terpulang bagaimana komunikasi perantau dengan pemerintahan nagarinya sehingga lebih siap dalam kegiatan pendampingan website nagari.

Pagi itu saya keluar dari kantor pemerintahan nagari III Koto Aue Malintang Utara di Padang Lariang setelah mengunci pintu kantor serta menitipkannya kepada tetangga di sebelah kantor. Sesuai rencana dari hasil mempelajari peta nagari edisi 1935 yang saya edit sendiri dari literatur peta Sumatera Universitas Leiden Belanda, serta hasil liputan sepekan yang lalu ke Sadang, Simpang Sarik Manih ketika menghadiri lomba PKK tingkat provinsi yang dibuka oleh bupati Ali Mukhni, pagi ini akan menncoba menyusuri jalan kampung di Landua melerengi perbukitan hingga ke batang Antokan di Korong Sarik Manih. Dari tofografi peta yang ada ada kemungkinan mendapatkan foto panorama persawahan di nagari dari atas perbukitan. Ternyata dugaan saya tidak keliru, subhanallah…. pagi itu terpampang keindahan alam yang indah, dimana terbentang persawahan mulai dari Siguhuang hingga ke Lubuk Basung kabupaten Agam, dengan keindahan aliran batang Antokan yang berhulu di Maninjau nun jauh disana akan bermuara di Muaro Putuih nagari Tiku Utara kec. Tanjuang Mutiara kab. Agam.

Keindahan panorama persawahan di Landua, nagari III Koto Aue Malintang Utara, Padang Pariaman dari perbukitan dengan sisi pandang 180º. Tampak aliran batang Antokan yang berhulu di danau Maninjau yang saat ini sering digunakan sebagai aset wisata arung jeram oleh wisatawan yang datang.

Setelah menyusuri persawahan & tiba disebarang, niat semula akan mengunjungi korong Siguhuang yang berada di sebelah korong Simpang Sarik Manih. Namun sebelum tiba di Siguhuang, mata saya terpaku melihat aliran tali air yang digunakan masyarakat untuk usaha budidaya keramba ikan air tawar. Ukuran ikan yang ada disini rata-rata sudah mencapai berat 700 gram per ekor, mungkin 2 bulan kedepan sudah tiba pula masanya untuk dipanen. Selain keramba yang ada, kiranya Ikatan Pemuda Simpang Sarik Manih juga memiliki lubuk ikan larangan di tali air ini, dimana pada bagian luar keramba terdapat ikan raya (mas) yang berenang bebas di tali air. Biasanya setahun sekali lubuk larangan selalu dilakukan pembongkaran dimana pemuda sebagai salah satu kelompok masyarakat di nagari akan mempergunakan hasil penjualan ikan tersebut untuk kegiatan yang ada di nagari.

Keramba ikan air tawar yang terdapat pada saluran tali air irigasi persawahan, dimana masyarakat setempat memanfaatkan bagian tepi tali air untuk digunakan usaha budidaya keramba ikan air tawar. Jenis varietas ikan yang sering dibudidayakan disini adalah ikan raya (mas) & ikan nila dengan masa panen 6 bulan sekali.

Perjalanan saya lanjutkan terus ke arah mudiak, menyusuri tepi batang air Antokan dengan tujuan Siguhuang. Namun diperjalanan sepeda motor yang saya kendarai kembali terhenti ketika berada di pertigaan. Apabila arah yang saya tempuh terus ke hulu akan memasuki wilayah Siguhuang & pada sebelah kanan tampak jembatan buai kontruksi besi yang tampaknya baru  setahun dibangun, dimana kondisi cat & lantai jembatan masih kelihatan kondisi baru. Terus terang hati saya menjadi bercabang, mungkin lebih baik dicoba untuk mengunjungi kampung di sebarang, lagi pula persawahannya tertata dengan rapi yang tentu saja sangat menggoda untuk didokumentasikan. Lagi pula hari masih pagi, mungkin saja nanti diperjalanan bisa ditemui petani yang sedang membajak sawah atau aktifitas lainnya. Tentunya akan sangat berguna apabila bisa berkomunikasi langsung dengan petani, mulai dari harga pupuk, bibit ikan, harga jual hasil tani dan lain sebagainya yang sangat membantu mengukur digunakan sebagai penilaian tingkat kesejahteraan petani disini. Dan ternyata saya memang beruntung pagi ini, mengapa?

Jembatan buai konstruksi besi yang menghubungkan kampung Alahan Bakali dengan Simpang Sarik Manih. Jembatan pada batang air Antokan ini merupakan hasil program PNPM tahun 2010, dimana dana program PNPM melalui hasil musyawarah masyarakat nagari diperuntukan membangun jembatan sehingga transportasi masyarakat bisa lebih lancar untuk mengirimkan hasil bumi.

Mengapa saya sebutkan sangat beruntung? Sebab peristiwa pembongkaran lubuk larangan hanya dilakukan sekali setahun. Bahkan untuk batang Tiku & batang Gasan Gadang di nagari III Koto Aue Malintang Selatan, kegiatan ini hanya dilakukan 2 tahun sekali. Bagi saya yang memang bukan anak nagari, sebab berasal dari luhak 50 Koto & babako ka luhak Agam, akan sangat menarik bisa meliput kegiatan membongkar lubuk larangan yang ada disini. Informasi ini saya dapatkan ketika singgah ke sebuah lapau (satu-satunya) yang ada di Alahan Bakali. Setelah mempekenalkan diri, mulai berbasa-basi seperti umumnya cara berinteraksi di nagari diperoleh informasi bahwa hari ini akan dilakukan gotong royong bersama untuk membongkar lubuk larangan.

Demikianlah essay foto tentang kegiatan gotong royong masyarakat nagari di kampung Alahan Bakali, Korong Simpak Sarik Manih, Nagari III Koto Aue Malintang Utara, kabupaten Padang Pariaman yang jaraknya hanya 7 km dari Lubuk Basung ibukota kabupaten Agam. Semoga essay ini juga memberikan paparan bagi kita semua masyarakat minang yang ada di berbagai belahan dunia bahwa sangat penting artinya memberdayakan ulayat nagari yang ada untuk membangun infrastruktur di nagari dengan semangat gotong royong. Salam dari ranah minang, tanah pusako bundo kanduang – LPM MARAPALAM.

Masyarakat kampung Alahan Bakali yang sedang berkumpul di lapau. Rupanya pagi ini direncanakan akan membongkar lubuk larangan di sebelah selatan kampung. Sebelum aktifitas dilakukan, masyarakat bermusyawarah terlebih dahulu bagaimana teknis pelaksanaan pembongkaran lubuk larangan. Untuk diketahui, malam sebelumnya para tokoh masyarakat termasuk niniak mamak sudah memutuskan bahwa pagi ini lubuk larangan di wilayah selatan akan dibongkar yang hasilnya akan digunakan untuk pembangunan jembatan di wilayah hilir.

Setiap laki-laki di kampung ini, mulai dari urang sumando hingga ke mamak bergotong royong untuk maampang batang Alahan Bakali yang aliran airnya berasal dari batang antokan. Batang air ini panjangnya kira-kira 2 km yang pada wilayah hilirnya kembali bermuara ke batang Antokan.

Foto ini secara jelas menyampaikan bahwa masyarakat di nagari adalah petani yang rajin bergotong royong. Kampung Alahan Bakali ini posisinya berada pada wilayah paling hulu (mudiak) di korong Simpang Sarik Manih. Seperti tip yang selalu saya berikan kepada dunsanak dimana saja yang ingin melihat nagari yang masih kental kebersamannya, carilah wilayah mudiak dimana pengaruh budaya dari luar belum begitu terasa, sehingga kita bisa melihat kehidupan masyarakat di nagari nan saiyo sakato, hidup badunsanak, tampek batenggang raso jo pareso.

Penutupan aliran batang air selain dilakukan dengan tumpukan batu juga disertai dengan terpal plastik. Dengan kerjasama seluruh masyarakat baik pemuda, mamak & urang sumando, dalam waktu hanya beberapa jam kegiatan ini bisa dirampungkan.

Kondisi batang Alahan Bakali setalah 2 jam selesai diampang. Sesuai hasil musyawarah, batang air ini akan ditutup selama 1 bulan ke depan, Dimana pada batang air sepanjang + 2 km akan dibangun keramba pada bagian tepi sehingga penghasilan masyarakat bisa bertambah. Hal ini bisa dilakukan apabila gotong royong nan sato sakaki, barek samo dipikua bisa dilakukan di nagari. Adalah hal yang penting kegiatan ini bisa dilakukan pada ratusan nagari yang ada di ranah minang, sehingga proses babaliak ke sistem pemerintahan nagari bisa mencapai sasaran.

Jembatan inilah yang nantinya akan dillakukan perbaikan dari hasil penjualan ikan Lubuak larangan Alahan Bakali. Sejak dari dulu, masyarakat disini selaku melakukan swadaya bersama membangun infrastruktur yang ada di nagari.

Tampak pada foto bagian samping jembatan yang telah terpasang gorong-gorong dengan cara swadaya. Walau tampak konstruksinya sangat sederhana, hal ini sangat dibutuhkan masyarakat dalam aktifitas sehari-hari yang bersawah & berladang, sehingga hasil bumi bisa didistribusikan langsung ke pasar di Lubuk Basung.

Seluruh masyarakat kampung Alahan Bakali tumpah ke batang air melakukan pemanenan ikan di lubuk larangan. varietas ikan yang ada antara lain : leman, raya, baung, gariang, nila & panjang. Di banyak nagari, kondisi batang air yang ada saat ini sudah jarang teradapat lubuk larangan. Akan lebih baik apabila di nagari-nagari di ranah minang hal ini bisa digiatkan kembali, selain untuk menjaga kelestarian sungai, juga bisa menopang perekonomian nagari & pembangunan infrastruktur yang ada nagari.

Salah satu ikan endemik Sumatera yang disebut ikan Panjang, walaupun bentuknya agak berbeda, memiliki cita rasa yang sangat gurih. Pada kegiatan membongkar lubuk larangan, baik tua maupun muda saling bacirabuik menangkap ikan yang ada sebagai salah satu gurauan ketika membongkar lubuk larangan.

Inilah ikan panjang terbesar yang berhasil ditangkap & terekam oleh kamera. Ketika terlihat seluruh masyarakat basihonjak riuh mengejar ikan ini agar tidak lari ke air. Posisi saya pada saat itu berada di atas jembatan, sehingga mudah mengabadikannya.

Mamak & kemanakan sama-sama berjibaku mencoba menangkap ikan panjang. Cara yang efektif menangkap ikan panjang adalah menggunakan sabit atau melemparnya dengan batu sungai. Perlu waktu paling tidak 20 menit hingga ikan ini menyerah setelah sempat menghilang ke dalam air. Warna tubuh yang coklat kehitang

Ikan Panjang terbesar hasil tanggapan masyarakat kampung Alahan Bakali. Untuk menangkap ikan ini diperlukan kehati-hatian, sebab dapat menggigit & menimbulkan luka yang cukup serius. Menurut keterangan masyarakat setempat apabila tergigit bagian anggota tubuh seperti jari tangan ataupun kaki, akan cukup sulit melepaskan gigitannya.

Ketika matahari mulai beranjak sore, masyarakat berkumpul di hilir batang air yang kembali bermuara di batang Antokan. Disini terpasang lukah yang merupakan alat tangkap terakhir yang digunakan untuk mengumpulkan ikan yang bergerak ke hilir sungai.

Kedua bocah ini menunggu dengan harap lukah yang akan dibuka ayahnya sambil berdoa semoga hasil yang diperoleh cukup banyak. Tentu saja bagi perantau minang hal ini adalah kenangan dimasa kecil yang tidak terlupakan, dimana dimasa kecil apabila mendapatkan seekor ikan yang cukup besar untuk diri sendiri adalah kebahagian yang tak terhinggga.

Ikan yang ditangkap kemudian dikumpulkan berdasarkan jenis, yang kemudian akan dibagi menjadi 42 tumpukan berdasarkan jumlah KK yang ada di Alahan Bakali, Korong Simpang Sarik Manih, Nagari III Koto Aue Malintang Utara, Padang Pariaman.

Tumpukan ikan hasil tangkapan bersama mulai dibagikan. Sore itu, diperoleh 42 tumpukan yang beratnya sekitar 4-5 kg per tumpuk. 41 tumpukan akan dibagikan dengan disertai penggantian uang oleh masyarakat nagari yang memperolehnya. Setelah itu, ikan yang ada bisa dibawa pulang ataupun dijual kembali oleh masyarakat kepada pengumpul yang akan menjualnya ke nagari sekitar. 1 tumpukan tersisa diberikan khusus oleh ketua pemuda IKPPS kepada fotografer... "Tarimo kasih pak ketua, indak ado doa panulak rasaki doh".

Ketua pemuda sedang memeriksa daftar nama masyarakat yang sudah menerima tumpukan ikan yang menjadi miliknya. Untuk 1 tumpukan, walaupun diperoleh masyarakat sendiri, harus disertai penggantian uang sebesar Rp. 35.000,-. Uang hasil penjualan inilah yang nantinya akan digunakan untuk memperbaiki jembatan yang ada.